Sabtu, 08 Maret 2014

Menemukan pekerjaan yang cocok dan nyaman

Menemukan pekerjaan yang cocok dan nyaman. Semenjak lulus SMA Negeri I Wuryantoro ada banyak pengalaman tentang pekerjaan yang telah saya lakoni, dari yang diperintah orang hingga bekerja mandiri.

Dengan ini saya bermaksud memberikan motivasi kepada pembaca, bahwa untuk menemukan kecocokan dalam pekerjaan tidak mesti mulus, terkadang banyak suka duka yang harus dijalani. Mengapa ini saya saya angkat dalam posting ini? Karena saya banyak melihat generasi muda yang bingung dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apa pekerjaan yang cocok bagi dirinya.

Karena bingung maka pekerjaan apapun dilamarnya hingga suatu saat sadar bahwa pekerjaannya bukan yang dimaksudkan. Mungkin cerita singkat perjalanan saya menemukan pekerjaan yang cocok dan nyaman di bawah ini bisa menjadikan study banding untuk para sahabat, terutama yang memiliki jiwa berwiraswasta dan suka tantangan.

1. Bekerja di catering

Lulus SMU tahun 1995 karena beranggapan bahwa Jakarta adalah gudang uang, tanpa pikir panjang pergi ke sana untuk mencari pekerjaan. Saya ngikut saudara yang telah sukses di sebuah perumahan di Bekasi. Karena belum ada lowongan pekerjaan, apapun saya kerjakan di rumah saudara saya tersebut, mulai dari bersih-bersih rumah, mencuci hingga menyeterika.

Setelah beberapa lama kenal teman yang mengajak saya melamar di sebuah perusahaan catering kecil. Berbekal selembar ijazah saya pun bergegas untuk melamar dan langsung di terima. Beberapa bulan saya bekerja ada rasa tak nyaman setiap kali masuk kerja. Meski rata-rata mayoritas mereka orang Jawa tetapi tak ada sedikitpun rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama orang Jawa di perantauan. Perlombaan mencari muka di depan bos pun berlangsung.

Dengan beberapa pertimbangan saya pun akhirnya memutuskan diri untuk keluar dari perusahaan tersebut dan pulang kampung.

2. Bekerja di PT. YKK Zipper Indonesia and PT. YKK Zipco Indonesia (www.ykk.co.id)

Setelah beberapa bulan di kampung halaman ada tetangga yang menawari saya untuk memasukkan lamaran ke sebuah perusahaan Jepang yang beralamat di Kampung Meriuk Desa Gandasari, Kec. Cikarang Barat, Bekasi 17520. Kembali untuk kedua kalinya pergi merantau.

Singkat cerita saya diterima di perusahaan tersebut. Waktu itu gaji perbulan saya hanya Rp 175.000, karena memang upah minimum regional saat itu segitu. Dengan gaji sekian rupiah untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari ternyata tidak cukup. Seringkali diakhir bulan kami hanya makan nasi, kerupuk dan sambel.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan akhirnya satu tahun berlalu. Tepat saat reformasi di negeri ini berlangsung kontrak kerja habis. Untuk bisa bekerja lagi di perusahaan ini harus memasukkan lamaran kembali.

Setelah saya pikir-pikir, dengan gaji sekian untuk beaya hidup sendiri saja tidak cukup, bagaimana nanti jika saya memiliki keluarga? Apakah nanti saya bisa menyekolahkan anak? Apakah nanti bisa membuat rumah untuk tempat tinggal? Tanpa pikir panjang saya pun memutuskan untuk pulang kampung.

3. Menjadi penabuh gamelan

Di kampung yang sepi kembali menganggur, setiap hari hanya gitar yang menemani. Suatu waktu beberapa teman mengajak berlatih karawitan. Kebetulan tetangga saya ada yang memiliki seperangkat gamelan meskipun hanya gamelan besi. Karena tak ada kegiatan, sayapun mengiyakan dan latihan dijadwalkan seminggu sekali pada malam minggu dengan membayar seorang pelatih karawitan yang dalam bahasa Jawa disebut Bestir.

Kurang lebih setahun berlatih menabuh gamelan belum juga lihai. Terkadang ada orang hajatan yang memanggil dengan upah seadanya terkadang hanya mendapatkan r0k0k dan makan saya jalani demi keinginan untuk bisa menjadi penabuh yang handal. Dari panggung ke panggung baik klenengan maupun mengiringi wayang kulit saya lakoni.

Beberapa saat kemudian campursari banyak digemari masyarakat, setiap orang hajatan mayoritas nanggap campursari. Tadinya tidak menggunakan gamelan, tetapi seiring berjalannya waktu kendang dan gamelan justru menjadi khas campursari.

Dari situlah pertama saya masuk ke dunia campursari hingga sekarang. Mengapa saya betah sampai sekarang menjadi penabuh gamelan? Karena saya bisa menikmati ketika memainkan gamelan. Saat menabuh rasanya menyenangkan, bisa sambil bercanda dengan teman-teman lewat komunikasi musikal yang dimainkan. Hal ini saya sadari bahwa ini merupakan bagian dari hoby dan bakat bermain musik.

4. Menjadi penjual Hidangan Istimewa Kampung (HIK)

Dunia hiburan memang tak ada habisnya, namun pekerjaan ngamen dari panggung ke panggung di desa lain dengan musisi yang sudah berkiprah di taraf nasional maupun internasional sangatlah berbeda. Pekerjaan ini bagi saya tidak bisa untuk hidup menopang ekonomi keluarga nantinya.

Berkat bantuan saudara saya diberikan modal gerobak dengan sewa Rp 5000 rupiah sehari sayapun mencoba menjadi pedagang HIK. Menjalani profesi ini pada awalnya mengasyikkan. Berangkat dari rumah pukul 15.30 WIB sampai ke tempat jualan di Nguter Sukoharjo pukul 16.00 WIB. Menata tempat, menggoreng makanan dan sebagainya selesai beres tinggal nunggu pelanggan.

Satu tahun berjalan saya tak merasa nyaman dengan pekerjaan ini, selain jaraknya yang begitu jauh, lama-kelamaan kejenuhan mulai melanda, tiap hari hanya begitu dan begitu terus. Saya mulai membayangkan, jika hal ini saya jalani sampai tua apa yang akan saya dapatkan? Uang? Rasanya uang takkan membuatku senang jika hidupku terasa tak bermanfaat bagi orang lain. Dengan pertimbangan tersebut keputusan saya berhenti dari pekerjaan ini.

5. Menjadi makelar motor

Saat menjadi pedagang HIK saya memiliki pelanggan yang berprofesi sebagai makelar motor. Dari situlah sedikit demi sedikit saya tahu harga jual motor dan bagaimana cara menjual motor. Setelah berhenti menjadi pedagang lesehan tersebut, menjadi makelar motor adalah pilihan. Dengan modal hutangan dengan jaminan sertifikat tanah milik ortu mulailah usaha jual beli motor bekas.

Berdagang sama juga berbisnis, pembisnis harus tega kepada pembeli dengan tujuan tetap untung. Membeli semurah-murahnya menjual dengan semahal-mahalnya. Namun sayang, saya tidak berbakat untuk itu. Jika ada pembeli yang sekiranya merengek ingin membeli dagangan meski untung sedikit pun saya berikan.

Bukan itu saja, saya paling tidak bisa bohong jika ada teman yang meminjam uang sedangkan saya ada. Tetapi, kebaikan yang saya tanam tidak mesti berbuah baik, kebanyakan setelah mereka pinjam entah lupa atau memang tidak punya uang tak pernah kembali sampai sekarang. Mungkin tak terlalu banyak, namun mengingat itu modal pinjaman otomatis lama-kelamaan saya bangkrut. Belum lagi aa sahabat yang menipu motor yang dijualnya kepada saya adalah motor aspal, menambah kebangkrutan.

Selain itu, dunia makelar motor yang saya jalani waktu itu sungguh tak membuatku nyaman. Jangankan kepada pelanggan, sesama makelar pun tega menipu. Tak peduli apa akibatnya, yang penting saya mau beli dan mereka mendapatkan untung.

Dari beberapa hal negatif itulah saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Saya merasa tak berbakat untuk karir ini, selain itu saya merasa tidak nyaman jikalau mencari uang dalam dunia kebohongan.

Itulah cerita singkat perjalanan karir saya dalam Menemukan pekerjaan yang cocok dan nyaman, mungkin bisa menjadikan inspirasi bagi anda. Sekarang saya benar-benar nyaman dengan pekerjaan yang saya tekuni, tidak melibatkan banyak orang dan saya merasa menemukan kecocokan dengan jiwa saya.

Silahkan baca artikel motivasi : Peluang kerja mandiri tanpa ijazah

Related Posts

Menemukan pekerjaan yang cocok dan nyaman
4/ 5
Oleh

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *