Minggu, 23 Maret 2014

Pembelahan meiosis

Pembelahan meiosis. Meiosis disebut juga pembelahan reduksi inti yang terjadi secara tidak langsung. Pembelahan meiosis terjadi pada pembentukan gamet yang bersifat haploid (n), tetapi berasal dari sebuah sel induk yang bersifat diploid (2n). Oleh karena itu, pembentukan gamet harus didahului dengan pembelahan reduksi dari jumlah kromosom yang disebut meiosis.

Pada hewan, pembelahan meiosis terjadi pada organ kelamin, yaitu testis dan ovarium. Pembentukan sperma yang terjadi dalam testis disebut spermatogenesis yang menghasilkan empat sel sperma yang fungsional dan masing-masing mempunyai n kromosom. Pembentukan ovum pada ovarium disebut oogenesis. Pada oogenesis dihasilkan hanya satu sel telur yang mempunyai n kromosom, sedangkan tiga sel hasil pembelahan meiosis lainnya mempunyai bentuk tidak normal sehingga tidak berfungsi.

Pada tumguhan bunga, pembelahan reduksi terjadi di dalam bakal biji dan kepala sari. Hasil pembelahan reduksi adalah gamet yang haploid (n kromosom) dan pada zigot hasil fertilisasi mempunyai sifat diploid (2n kromosom).

Fase Meiosis

Berbeda dengan mitosis, pembelahan ini berlangsung dalam dua tingkat, yakni meiosis I dan meiosis II. Meiosis I dibedakan atas beberapa fase, selengkapnya sebagai berikut :
1. Profase I terdiri atas lima tahap, yaitu :
  • Leptoten (leptonema), yaitu tahap benang-benang kromatin memendek dan menebal yang disebut kromosom.
  • Zigoten (zigonema), yaitu tahap kromosom tampak berpasang-pasangan (sinapsis) sehingga tampak sebagai kesatuan tunggal yang disebut dwitunggal atau bivalen. Tiap pasang terdiri atas kromosom yang homolog.
  • Pakiten, yaitu tiap kromosom terbelah menjadi dua kromatid yang tetap bersatu pada sentromer. Dengan adanya dua kromatid pada satu kromosom, berarti tiap bivalen terdiri atas empat kromatid yang tetap bersatu pada sentromer yang disebut tetrad.
  • Diploten, yaitu kromatid saling terpisah-pisah dan terjadi penukaran segmen-segmen dari kromatid dalam sebuah tetrad yang disebut sebagai pindah silang atau crossing over.
  • Diakinese, yaitu kromosom tampak tebal dan pendek membran inti dan nukleolus lenyap, dan terbentuk benang-benang gelendong.

2. Metafase I, ditandai dengan kromosom hasil duplikasi (tetrad) menempatkan diri di bidang equatorial secara acak (random).

3. Anafase I, ditandai dengan kromosom homolog saling memisahkan diri dan bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan. Berarti jumlah kromosom telah terbagi dari 2n menjadi n. Kromatid masih berlekatan pada centromernya.

4. Telofase I, ditandai dengan benang-benang kromatid berada di kutub masing-masing, benang-benang gelendong menghilang, nukleolus terbentuk kembali, dan pada bidang equatorial terbentuk sekat pemisah yang akhirnya terbentuk dua sel yang masing-masing bersifat haploid.

Setelah meiosis I berakhir maka dilanjutkan meiosis II. Antara keduanya terdapat selang waktu pendek yang disebut interkinese. Meiosis II dibagi menjadi empat fase/tahap, yaitu :

1. Profase II, ditandai dengan benang-benang kromatin berubah menjadi kromosom, kedua sentriol berpisah masing-masing bergerak ke kutub yang berlawanan, membran inti dan nukleolus menghilang, dan serabut-serabut gelendong terbentuk lagi.

2. Metafase II, ditandai dengan kromosom berjajar beraturan pada bidang equatorial dengan gelendong melekat pada sentromernya.

3. anafase II, ditandai dengan sentromer dari setiap kromosom membelah menjadi dua, kromatid-kromatid saling memisahkan diri, dan bergerak ke kutub yang berlawanan.

4. Telofase II, ditandai dengan kromatid sampai di kutub dan berubah menjadi kromatin, dinding inti dan nukleolus terbentuk kembali, dan diikuti sitokinesis sehingga terbentuk  empat sel anak yang bersifat haploid.

Baca juga: Pembelahan meiosis

Related Posts

Pembelahan meiosis
4/ 5
Oleh

Contact Me

Nama

Email *

Pesan *