Metagenesis pada tumbuhan dan hewan

Metagenesis pada tumbuhan dan hewan. Kemampuan organisme menghasilkan keturunan merupakan salah satu upaya untuk melestarikan jenisnya agar tidak mengalami kepunahan. Pada beberapa organisme tertentu pada siklus hidupnya ada yang mengalami pergiliran keturunan (metagenesis). Metagenesis adalah pergiliran keturunan antara fase vegetatif dan fase generatir.

Fase vegetatif adalah fase dihasilkannya spora sehingga fase ini dikenal juga sebagai fase sporofit. Spora yang dihasilkan memiliki susunan kromosom 2n (diploid). Sedangkan fase generatif adalah fase dihasilkannya gamet sehingga fase ini dikenal juga sebagai fase gametofit. Gamet yang dihasilkan memiliki susunan kromosom n (haploid).

Tumbuhan dan hewan yang mengalami metagenesis

Organisme apa sajakah yang mengalami metagenesis? Beberapa jenis tumbuhan dan hewan mengalami metagenesis dalam siklus hidupnya. Misalnya tumbuhan lumut, tumbuhan paku, serta hewan protozoa (Obelia sp, dan Plasmodium sp.). Mari kita bahas satu-persatu, selengkapnya sebagai berikut.

1. Tumbuhan lumut
Perkembangan lumut mengalami pergiliran keturunan antara fase vegetatif dan fase generatif. Lumut dapat berkembang baik secara vegetatif dengan spora. Spora jatuh di tempat yang cocok akan akan menjadi kecambah kemudian menjadi protonema. Protonema tumbuh menjadi gametofit.

Selanjutnya, gametofit tumbuh menjadi gamet baik gamet jantan maupun gamet betina. Gamet jantan disebut anteridium, sedangkan gamet betina disebut arkegonium. Anteridium menghasilkan sp*rma dan arkegonium menghasilkan sel telur.

Peleburan antara sel sp*rma dan dan sel telur akan membentuk zigot. Zigot berkembang dan tumbuh menjadi suatu badan kecil yang akan menghasilkan spora, disebut sporogonium.

Demikian perkembangbiakan secara vegetatif dan generatif berlangsung secara bergantian melalui suatu pergiliran keturunan yang disebut metagenesis.

2. Tumbuhan paku
Tumbuhan paku menunjukkan metagenesisi, generasi gametofitnya menghasilkan protalium. Protalium hanya berumur beberapa minggu saja. Protalium besarnya seperti jantung berwarna hijau melekat pada substrat dengan rizoid.

Protalium memiliki anteridium dan arkegonium sehingga disebut fase gametofit. Fase sporofit lebih tampak jelas, tubuhnya telah dapat dibedakan atas akar, batang, dan daun. Fase inilah tumbuhan paku yang sebenarnya.

Perbedaan antara tumbuhan lumut dan tumbuhan paku
Perbedaan antara tumbuhan lumut dan tumbuhan paku terletak pada cara tumbuh generasi. Pada tumbuhan paku, fase sporofit dan fase gametofit tidak saling bergantung. Segera setelah sporofit dapat membuat makanannya sendiri, gametofit yang sangat kecil akan mati. Sebaliknya, pada tumbuhan lumut, kedua fase sepenuhnya saling bergantung. Sporofit memerlukan gametofit untuk makanannya.

3. Ubur-ubur (Obelia sp)
Obelia sp berbentuk bulat panjang (polip) pada saat berlangsung perkembangbiakan secara tidak kawin dan berbentuk seperti payung (medusa) pada saat berlangsung perkembangbiakan secara kawin.

Dari pembentukan gamet (gonangium), kuncup-kuncup  medusa dilepaskan dan terpisah menjadi individu yang dapat menghasilkan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Jika terjadi persatuan antara sel sp*rma dan sel telur, maka terbentuklah zigot yang kemudian akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan menjadi Obelia sp. baru yang berbentuk polip.

Polip tersebut kemudian berkembang biak secara vegetatif dengan membentuk kuncup-kuncup (tunas) dibagian ujungnya. Apabila tunas dilepaskan, maka akan tumbuh menjadi medusa dan terulang kembalilah siklus hidup Obelia sp.

4. Plasmodium
Siklus hidup Plasmodium sp. dimulai dari infeksi sporozoit yang dilakukan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Di dalam tubuh manusia, sporozoit menyerang sel darah merah. Setelah masuk ke dalam sel darah merah, sporozoit akan berkembang biask secara vegetatif dengan membelah diri secara berulang-ulang menjadi merozoit dalam jumlah yang sangat banyak.

Jika merozoit telah masak, maka sel-sel darah merah pecah sehingga merozoit yang berada di dalamnya berhamburan ke luar. Merozoit yang terbebas kemudian menyerang sel-sel darah merah yang baru dan terjadilah siklus berikutnya.

Masa perkembangan sporozoit menjadi merozoit disebut sporulasi yang berlangsung secara as*ksual. Pada perkembangan berikutnya, dari sekian banyak merozoit yang terbentuk, di antaranya ada yang berkembang menjadi sel gamet (gametosit). Jika gametosit terhisap oleh nyamuk, maka di dalam perut nyamuk berkembang menjadi gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan disebut dengan mikrogametosit, dan gamet betina disebut dengan makrogametosit.

Di dalam perut nyamuk, mikrogametosit dan makrogametosit melebur menjadi satu membentuk zigot. Zigot yang terbentuk kemudian keluar dengan menembus dinding usus nyamuk dan berubah menjadi ookista.

Di dalam jaringan bawah usus nyamuk, ookista membelah diri membentuk sporozoit yang kemudian keluar dari jaringan bawah usus nyamuk menerobos dinding kelenjar ludah nyamuk dan masuk ke dalamnya.

Jika kemudian nyamuk tersebut menggigit orang lain yang sehat, maka sporozoit masuk ke dalam tubuh orang tersebut dan siklus perkembangbiakan Plasmodium sp. akan terulang kembali.

Baca juga :
Demikian informasi online digital yang dapat kami sampaikan mengenai Metagenesis pada tumbuhan dan hewan. Semoga info di atas bermanfaat bagi anda yang mencari informasi terkait atau bahkan sedang mempelajari ilmu biologi.
Metagenesis pada tumbuhan dan hewan
4/ 5
Oleh

Contact Me

Name

Email *

Message *