Selasa, 10 November 2015

Tingkat kekerasan batu permata

Tingkat kekerasan batu permata

Di dunia ini ada ribuan jenis kristal yang berasal dari berbagai bahan mineral, namun hanya 75 jenis saja yang dapat dikategorikan sebagai permata atau batu mulia, berdasarkan kecantikan, jarangnya di dapat, dan daya tahan mineral.

Salah satu faktor yang menentukan daya tahan mineral tersebut adalah kekerasannya, karena dengan demikian akan mempengaruhi pula daya tahannya terhadap gesekan, dan goresam. Bila tahan goresan, atau keras maka jelas daya pantul permukaannya juga semakin tinggi dan menarik.

Oleh sebab itu, kita juga langsung mengerti bahwa bahan-bahan imitasi itu akan rusak, karena tidak tahan goresan dan gesekan, sehingga kecemerlangan permukaannya menurun.

Seorang ahli mineral bangsa Jerman yang hidup di awal abad 19 F. Mohs, membuat sebuah  daftar kekerasan bahan mineral. Daftar tersebut terkenal sebagai daftar Mohs. Urutannya dibuat terbalik, yaitu yang paling empuk ditempatkan di atas, sedangkan semakin keras bahannya ditaruh di urutan lebih bawah.

Daftar Mohs adalah sebagai berikut :
  1. Talk
  2. Gips
  3. Kalsit
  4. Fluorit
  5. Apatit
  6. Ortoklas
  7. Kuarsa
  8. Korundum
  9. Intan
Dengan semakin tingginya tingkat ilmu pengetahuan, maka kekerasan masing-masing bahan mineral bida ditentukan. Dengan demikian itu, semakin tahu akan tingkat kekerasan dan daya tahan masing-masing kristal mineral.

Berbeda dengan daftar Hos tadi, maka tingkat kekerasan dibuat ke bawah, yaitu bahan paling keras ditaruh diurutan pertama, dan diberi angka atau nilai 10. Urutan pertama ditempati oleh intan. Berikut daftar lengkapnya :
  1. Intan : 10
  2. Korundum : 9
  3. Krisoberil : 8,5
  4. Yag : 8,5
  5. Spinel : 8
  6. Topas : 8
  7. Beril : 7,5 - B
  8. Sirkon : 7,5
  9. Turmalin : 7 - 7,5
  10. Kuarsa : 7
  11. Garnet : 6,5 - 7,5
  12. Giok/Jade : 6,5 - 7
  13. Peridot : 6,5 - 7
  14. Nefrit : 6,5
  15. Moonstone : 6 - 6,5
  16. Rutil : 6 - 6,5
  17. Turkoise/pirus : 6
  18. Hematil : 5,5 - 6,5
  19. Opal : 5,5 - 6,5
  20. Kaca : 5 - 6
  21. Lapis : 5 - 5,5
  22. Titanit : 5 - 5,5
  23. Koral : 3,5
  24. Mutiara : 2,5 - 3,5
  25. Amber : 2 - 2,5
  26. Jet : 2 - 2,5
Tabel dia atas menunjukkan bahan yang berada pada urutan angka terkecil adalah yang lebih keras dari bahan yang ada di bawahnya, dan bahan ini dapat menoreh, atau menggoreskan bahan yang tingkat kekerasannya lebih kecil.

Untuk para ahli batu permata, mereka dilengkapi dengan alat pengukur kekerasan dari angka satu hingga sepuluh, berupa pensil logam yang ujungnya memiliki bahan-bahan yang kekerasannya sama dengan angka yang tertera di atas.

Bagi kita yang hanya sekedar tahu saja, bisa mencari jalan mengukur tingkat kekerasan dengan mencari bahan lain yang kira-kira setara kekerasannya. Lalu batu permata yang akan kita teliti itu kita toreh dengan batu permata, misalnya saja punya tingkat kekerasan 7. Bila tidak bisa, alias kalis, maka kemungkinan tingkat kekerasannya 8.

Ketika memeriksa torehan tadi, kita harus hati-hati, karena terkadang bahan mineral yang lebih lunak meninggalkan bekas garis atau baru, sebab bahan tersebut kalah keras. Sehingga meninggalkan bubuk di bahan keras.

Ini disebut efek kapur tulis. Maka untuk menelitinya kembali, coba hapuslah bekas torehan tadi. Bila hilang, berarti bahan yang kita periksa itu lebih keras ketimbang bahan yang kita pakai sebagai pembanding. Bila torehan masih membekas berarti bahan yang diperiksa betul-betul lebih empuk.

Ada lagi cara yang murah meriah, yaitu dengan menggunakan mata kikir logam. Mata kikir memiliki tingkat kekerasan antara 6 hingga 7. Bila mata kikir kita goreskan sedikit ke bahan yang hendak diteliti, dan lalu nampak ada sisa bubuk yang tertinggal pada mata kikir itu, berarti bahan yang kita periksa lebih lunak. Dan itu berarti angka kekerasannya lebih tinggi dari 6 atau 7.

Agar lebih jelas lagi, perlu diketahui tingkat kekerasan beberapa bahan yang sangat akrab dengan kita, yaitu :
  • Kuku : 2,5
  • Koin tembaga : 3
  • Mata pisau : 4,5
  • Gelas : 5 - 5,5
  • Mata kikir : 6 - 7
Nah, sampai disini saja kita sudah bisa mengetes batu permata yang ingin kita beli dengan cara-cara murah meriah.

Baca lengkap : Cara praktis mengenali batu permata

Dengan melihat warna, gosokan/faset, doubling, dan tingkat kekerasannya saja, lalu kita cari dalam daftar tingkat kekerasan itu, maka paling tidak kita sudah tahu apa jenis batu yang ada dihadapan kita.

Rabu, 04 November 2015

Warna dan faset batu permata

Warna dan faset batu permata

Dalam dunia batu permata, warna selalu dirijukkan pada derajat kecerahan dalam tubuh si permata itu sendiri. Oleh sebab itu, variasinya juga sedikit, yaitu dari tidak berwarna menjadi putih atau kuning. Tentu saja gradasi atau derajat perbedaannya bermacam-macam, dan perbedaannya tipis sekali.


Apabila sepuluh butir intan kita deretkan dalam satu baris dan diberi nomer dari satu hingga sepuluh, maka akan sulitlah bagi kita untuk membedakan perbedaan gradasi nomer satu dengan nomer dua. Sulit memisahkan dua nomer berurutan. Namun perbedaan antara nomer satu dengan tujuh misalnya, akan sedikit nampak perbedaannya.


Pemeriksaan warna intan ini memang tidak bisa sembarangan, sebab para ahli pun harus dibekali dengan seperangkat alat tera yang menunjukkan gradasi warna intan mulai tidak berwarna sekali sampai kuning misalnya.


Jangan harap kita yang masih pemula akan segera mampu mengenalinya. Tentu kita membutuhkan pengalaman dan pengetahuan lebih lanjut. Intan umumnya memiliki warna-warna pelangi dan intan yang mampu menampilkan warna-warna pelangi secara terang dan utuh itu disebut sebagai Fancy.


Satu lagi bahaya yang harus diingat, yaitu banyak jenis batu permata yang memiliki warna yang sama atau mirip. Jadi memang harus hati-hati.


Para ahli permata yang berpengalaman dapat mengenali perbedaan bahan itu dengan mempelajari bayangan warnanya, misalnya : jika ada permata yang berwarna biru-violet dan intensitasnya rendah. Itu ada kemungkinan jenis tanzanite. Tetapi tentu tidak terhenti di situ saja. Ia akan terus mengujinya dengan cara lainnya sampai ia yakin bahwa itu tanzanite. Sulit bukan?


Ap yang kita dapatkan dari teknik-teknik yang dikemukakan tadi adalah : bahwa kita sudah bisa mendapatkan bahan bandingan untuk menilai atau mengenali batu permata yaitu dengan melihat teliti doubling, retakan, kemengkilapan, belahan dan warna batu-batu permata ini.


Konon dengan ini saja kita sudah banyak bisa mengenali batu-batu permata, ketimbang tidak punya pengetahuan sama sekali. Dengan kaca pembesar sederhana saja kita sudah dapat mengenali sirkon lewat doubling dari asahan bagian belakangnya, yaitu di bagian facetnya.


Sirkon , turmalin, peridot dan beberapa jenis yang lain memiliki efek doubling yang kuat. Misalnya saja kita menemukan batu yang berwarna hijau kebiruan, transparan, dan berfaset (diasah berbidang-bidang) dan menampilkan efek doubling yang kentara, maka boleh jadi itulah sirkon.


Jika warnanya agak pink atau hijau gelap, kemungkinan turmalin. Lalu jika kita menemukan retakan yang berbentuk keong alias membulat, berkilatnya seperti kaca dan warnanya kekusaman, itu bisa dipastikan permata imitasi yang dibuat dari gelas, atau juga bisa dari jenis batu giok atau pirus.


Dengan latihan-latihan lama-kelamaan kita akan mampu membedakan batu-batu yang bisa menunjukkan tingkat kilapan yang tinggi dan yang baik.


Warna dan faset batu permata



Faset


Mengenal faset sama pentingnya untuk mengetahui bagaimana gadis atau perjaka berdandan. Umumnya batu permata dipotong, diasah sedemikian rupa untuk mendapatkan efek kilau yang tinggi. Semakin rumit cara pengasahannya tentu juga semakin mahal harganya.


Permukaan permata itu diasah dalam berbagai segi, sehingga disebut faset. PEngasahannya jelas tidak sembarangan saja, namun dilakukan dengan teliti dan perhitungan yang njelimet.


JIka memeriksa batu permata dengan mata telanjang, maka kita perlu mengetahui jenis faset permata itu sendiri. Apabila faset itu berbentuk bulat, tidak datar rata, dan tidak memenuhi kriteria bahwa setiap potongan itu rapi, maka dapatlah kita menduga-duga bahwa batu permata itu imitasi adanya. Biasanya permata imitasi ini dibuat dengan proses pencetakan.


Sedangkan pada permata alami yang diasah dengan hati-hati akan menampilkan kilau yang lincah, karena perpotongan antara bidang itu pas sekali.


Faset itu terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing diberi nama sesuai dengan posisinya.




  • Permata adalah meja/table yaitu bagian bidang atas rata sehingga menyerupai meja.

  • Faset bintang, yaitu bidang samping yang dipotong miring.

  • Faset Bezel

  • Fasetkorset bagian atas

  • Faset korset pinggir

  • Faset korset bawah

  • Faset pavilion

  • Kulet


Bila kita lihat batu permata itu dari samping makan nampaklah dua bagian besar sosoknya, yaitu yang di atas disebut sebagai mahkota dan bagian yang ada di bawahnya adalah pavilion.

Selanjutnya : Tingkat kekerasan batu permata

Selasa, 03 November 2015

Kemengkilapan dan belahan batu permata

Kemengkilapan dan belahan batu permata

Untuk mengenali batu permata, selanjutnya dengan melihat kemengkilapan dan belahan permata. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh batu mulia agar bisa disebut sebagai batu permata, yaitu : keindahannya, jarang terdapat dan awet atau tahan lama.


Sedangkan salah satu syarat untuk bisa disebut indah ialah pantulan sinar dari permukaan permata tersebut, atau kemengkilapannya yang alamiah. Kendati kemengkilapannya itu banyak dihubungkan dengan kekerasan kristalnya, tetapi hal ini juga berkaitan erat dengan kejernihan kristal batu itu dan daya biasanya atau refraksinya.


Intan misalnya, menjadi batu mahal ditentukan oleh angka indeks refraksinya. Semakin tinggi angka refraksi itu, maka semakin tinggi pula nilai kemengkilapannya. Di bawah ini ada beberaoa patokannya :




  • Pudar : tak ada kecerahannya sedikitpun juga.

  • Berminyak, buram : penampilannya muram, tidak cerah, seperti memiliki lapisan minyak.

  • Berkilat : ini adalah jenis kemengkilapan seperti yang didapatkan pada kaca.

  • Adamantin : mengkilap secara mantap, tak berubah, percikan sinarnya tinggi dan kerlipnya juga tinggi seperti yang dapat ditemukan pada intan.


[caption id="attachment_12623" align="aligncenter" width="512"]Kemengkilapan dan belahan batu permata Kemengkilapan dan belahan batu permata[/caption]

Belahan


Belahan ini sering disamakan dengan retakan seperti yang dikemukakan sebelumnya. Padahal berbeda sekali. Jika retakan ini merupakan ujung dari patahan, sedangkan pecahan merupakan kondisi yang mengenai perpisahan.


Permata bisa dipecah dengan memberi satu pukulan besar pada arah pecahan itu. Ini merupakan salah satu teknik pengasah batu permata yang menerima bahan kasar besar. Untuk memecahnya, maka dipakailah teknik semacam ini.


Biasanya pengasah akan mempelajari dahulu batu kasar tersebut dan menentukan arah mana yang mudah untuk dipukul sehingga pecah. Maka, ia akan mencari pecahan yang nampak dalam permukaan kristal dan mulailah memukul.


Untuk memahami apa beda retakan dan pecahan itu, dapatlah kita membayangkan serat kayu, atau lapisan kayu. Bila kayu itu digergaji dan diasah membujur, maka nampaklah serat-seratnya itu memecah bidang kayu utuh. Inilah belahan, atau jelasnya saja dalam bahasa Inggris disebut cleavage.


Dalam pengasahannya, alur pecahan ini harus diperhitungkan betul-betul. Karena jika tidak, maka batu permata kita bisa justru hancur berkeping-keping.


Selanjutnya : Warna dan faset batu permata

Efek doubling dan retakan batu permata

Efek doubling dan retakan batu permata

Setelah kita mengetahui dan memahami dengan cara melatih visual untuk mengetahui keaslian sebuah permata, cara praktis mengenali batu permata selanjutnya adalah Efek doubling dan retakan. Berikut pembahasan selengkapnya.



Efek doubling


Sinar yang menembus lapisan kristal akan mengalami pembiasan, sesuai dengan hukum alam yang kita kenal di bangku SLTP dahulu. Arah pembiasan berbeda-beda dan besar kisaran atau pergeserannya juga bervariasi.


Batu permata jenis sirkon dan turmalin adalah jenis-jenis permata yang memiliki ciri khusus dalam pembiasan sinarnya. Pembiasan sinar dari bentuk asahan di belakang batu ini akan menghasilkan dua jenis sinar pula. Inilah efek doubling atau ganda.


Efek ini pada turmalin dan sirkon begitu kentara, sehingga pada kristalnya yang berukuran sepertiga atau setengah karat saja sudah nampak. Pemeriksaan memakai kaca pembesar akan sangat membantu obyektivitasnya.


Jenis batu mulia lain yang memiliki efek doubling ini antara lain korundum, yang diperdagangkan biasanya disebut sebagai rubi atau safir biru. Lalu kuarsa dan beryl (zamrud) juga memiliki sifat demikian kendati semuanya tidaklah sekuat dua jenis yang pertama tadi.


Efek doubling yang kuat inilah yang membedakan turmalin dan sirkon dari jenis-jenis batu mulia lainnya. Ini sangatlah membantu para pemula untuk bisa membedakan jenis-jenis tersebut dengan yang lainnya.




[caption id="attachment_12618" align="aligncenter" width="699"]Efek doubling dan retakan batu permata Efek doubling dan retakan batu permata[/caption]

Retakan


Retakan yang ada pada batu-batu permata adalah berupa satu irisan atau garis yang memotong permukaan sampai ke dalam. Permata yang memiliki struktur berserat-serat seperti batu giok sering memiliki ciri yang demikian ini.


Retakan tersebut juga bisa berbentuk melingkar seperti kulit keong. Umumnya retakan terjadi akibat tekanan yang berat di dalam perut bumi. Atau bisa juga tekanan besar sewaktu permata sudah jadi. Satu hal yang harus kita perhatikan adalah bahwa retakan ini dapat terjadi pada semua jenis batu permata.


Cara praktis mengenali batu permata selanjutnya : Kemengkilapan dan belahan

Senin, 02 November 2015

Melatih visual terhadap keaslian batu permata

Melatih visual terhadap keaslian batu permata

Tips pertama sebagai kelanjutan dari Cara praktis mengenali batu permata adalah melatih visual. Tentu saja dasar utama untuk mengetahui persolan permata adalah melatih pandangan kita.


Di bawah ini dituturkan cerita seorang guru yang mengajarkan indetifikasi permata atau germ indetification.


Katanya ia pernah mempekerjakan seorang karyawan untuk mengenali batu permata yang dibawa oleh orang untuk digadaikan atau dijual.


Karyawan itu pada awalnya berpendapat, bahwa batu permata yang dibawa oleh orang yang naik mobil Mercedes tentulah permata alamiah dan bukan sintetis.


Lalu bila permata itu dibawa oleh orang yang naik mobil lain yang lebih murah, maka asumsinya tentulah permatanya sintetis dan bukan yang asli.




[caption id="attachment_12610" align="aligncenter" width="594"]Melatih visual terhadap keaslian batu permata Melatih visual terhadap keaslian batu permata[/caption]

Begitu juga bila permata itu diikat pakai emas atau platina, tentulah dari jenis yang asli, dan yyang diikat menggunakan tembaga atau suasa pastilah sintetis.


Nah, dari awal ia melihat saja sudah keliru, begitu tutur si instruktur. Kita jangan terkecoh oleh embel-embel semacam itu. Yang kita lihat dan kita fokuskan pandangan kita adalah pada batu permatanya, bukan pernik-pernik yang mengelilinginya atau siapa orang yang membawanya, naik apa, pangkatnya apa, dan lain sabagainya.


Itulah yang disebut sebagai terkecoh pada pandangan pertama.


Itu belum lagi pada tahap memeriksa permatanya. Seorang ahli permata yang berpengalaman saja pasti menggunakan alat-alat bantu untuk memastikan permata di depannya. Oleh karena itu, bagi kita yang amatiran ini, tentulah perlu mengasah pandangan mata kita supaya lebih tajam, dan peka.


Tips selanjutnya : Efek doubling dan retakan batu permata


Semoga info ini memberi manfaat

Cara praktis mengenali batu permata

Cara praktis mengenali batu permata

Cara praktis mengenali batu permata - Ada baiknya kita sedikit mengetahui cara atau teknik untuk mengenali permata yang hendak kita beli. Tujuan tulisan ini bukanlah untuk mendorong anda untuk menjadi seorang ahli batu permata. Kalaupaun kemudian anda menjadi ahli permata, tentu akan menggembirakan.


Apa yang akan disampaikan disini hanyalah satu teknik sederhana untuk mengenali jenis, mutu dan bentuk permata yang kita lihat. Mungkin ini sekedar bekal sederhana untuk anda agar tidak terlalu buta sama sekali terhadap batu permata. Sehingga sedikit banyak membantu anda para pembaca enjang.com untuk menghindari penipuan yang pernah dialami banyak orang.


Harus pula anda ingat bahwa  mengenali batu permata dan mutunya tidaklah mudah, bahkan untuk seorang ahli pun. Kemajuan teknologi mendorong produksi permata tiruan berlimpah-limpah dengan segala macam corak dan bentuknya. Sangat sulit membedakan mana yang imitasi dan mana yang alami.


Terkadang mereka ini membuat bahan permata secara gumpalan besar, kemudian dipotong dan diasah seperti halnya batu permata yang diambil dari alam. Hasilnya sungguh luar biasa. Untuk itulah sangat sulit orang membedakan mana yang asli dan mana yang aspal (asli tapi ) palsu .


Seorang ahli batu permata yang benar-benar jeli dan piawai tidak cukup hanya membaca uraian ini. Ia harus menambah pengetahuannya berupa bacaan yang komplit, berguru pada seorang ahli dan mencari pengalaman selama bertahun-tahun. Itupun sesekali mereka masih juga terkecoh. Jadi, janganlah terlalu percya pada pengetahuan kita yang masih sedikit.


Seorang ahli batu permata memberi saran, bahwa mengetahui sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Bila kita ragu-ragu lebih baik rencana pembelian dibatalkan saja, menunggu sampai yakin benar. Ini akan membuat kita tidak tertipu dan tentu saja menghemat banyak.


Satu hal yang harus dihindari dalam memilih dan membeli batu permata adalah bernafsu besar. Hindarilah nafsu yang menggebu-gebu ingin segera memiliki, karena ini bisa membuat batu koral tampak menjadi sebentuk intan di mata anda. Menunda sangatlah berarti untuk pengeluaran kita.




[caption id="attachment_12607" align="aligncenter" width="729"]Cara praktis mengenali batu permata Cara praktis mengenali batu permata[/caption]

15 hal yang harus dipelajari sebelum membeli batu permata


Agar anda lebih paham sekaligus sebagai bahan pelajaran dalam mengenal batu permata atau batu mulia, berikut 15 hal yang harus anda perhatikan ketika akan membeli batu permata atau sekedar ingin mengetahuinya.




  1. Melatih visual

  2. Efek Doubling (Ganda)

  3. Retakan

  4. Kemengkilapan permukaan

  5. Belahan

  6. Warna

  7. Faset

  8. Tingkat kekerasan batu permata

  9. Gravitas spesifik atau berat jenis

  10. Tes Refraksi

  11. Pengetesan lewa periskop

  12. Pengukuran memakai Dikroskop

  13. Pengujian warna permata

  14. Beberapa sifat dan ciri permata sintetis

  15. Nama ilmiah dan nama asaran batu permata


Itulah hal-hal yang perlu anda perhatikan mengenai batu permata. Karena tulisan penjelasan yang terlalu panjang, dari kelima belas hal tersebut masing-masing akan dijelaskan dalam 15 point artikel pula yang akan diposting setiap hari. Untuk itu, semoga anda rajin mengunjungi situs infromasi ini.




Selanjutnya : Melatih visual terhadap keaslian batu permata


Contact Me

Nama

Email *

Pesan *