Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

3 pokok utama teori membuat cerpen

9 Februari 2014 | Sastra

3 pokok utama teori membuat cerpen. Di Indonesia sebuah cerita pendek biasanya berkisar dari 3 sampai 5 halaman tik folio. Yaitu cerita yang pendek, singkat, membicarakan suatu masalah yang tunggal, habis dibaca sekali duduk. Penggunaan kalimat dan kata-katanya ekonomis, sehingga tidak bertele-tele. Cerita harus membangkitkan suatu efek perasaasn kepada pembaca, misalnya sedih, horor, jenaka dan sebagainya.

Dilihat dari kualitas isi cerita, ada 2 macam cerpen, yakni cerpen sastra dan cerpen hiburan. Tetapi, bagi pemula tak perlu terikat pada kualitas manapun. Kini yang terpenting kita belajar dulu untuk membuatnya.

Yang perlu diingat dan diperhatikan adalah syarat-syarat menulis cerita pendek tersebut, supaya anda tidak semrawut dalam menulisnya. Dan syarat-syarat tersebut perlu sekali diketahui sebagai bimbingan dan pengarahan supaya tidak lari dari sasaran. Seperti :

1. Memilih judul : menarik, gampang diingat, tidak terlalu panjang, tidak menyimpang dari jalan cerita, mengandung misteri sehingga orang terangsang, terpancing untuk terus membaca dan mengetahui apa yang tersembunyi dibalik judul tersebut.

2. Pembukaan yang menarik dan dewasa, langsung membawa pembaca ke dalam cerita. Pembukaan atau permulaan dari cerita adalah pintu gerbang cerita itu sendiri. Menentukan apakah cerita itu perlu dilanjutkan membacanya atau tidak.

Pembukaan yang baik adalah kalimat yang tidak bertele-tele dan tidak terlampau banyak mempergunakan perumpamaan, tetapi cukup memberikan keterangan yang lengkap. Cerita dan kalimat pembukaan memberikan kesan untuk isi cerita selanjutnya.

3. Membentuk peristiwa-peristiwa, buatlah ketegangan atau puncak masalah. Ini perlu, karena merupakan pertengahan dan isi cerita. Membuat peristiwa-peristiwa atau puncak masalah, supaya tidak datar-datar saja jalannya, sehingga cerita tidak hambar dan membosankan. Mengadakan problem-problem dalam cerita, sebagai irama turun naiknya atau romantiknya.

4. Klimaks atau penyelesaian merupakan juga jalan keluar dari peristiwa dan problem yang di buat tadi.

5. Kemudian yang perlu diingat lagi bagi pengarang baru adalah supaya sedapatnya menghindarkan dulu penulisan cerita pendek yang panjang. Belajarlah mengarang cerita pendek yang tidak terlalu panjang, sekitar 3 sampa 4 halaman folio ketikan saja.

Tujuannya adalah supaya tidak bertele-tele dalam cerita, karena baru. Lagi pula sesuai dengan tujuan cerita pendek agar tidak membosankan, tidak menyita waktu pembaca. Sehingga menjadi cerpen yang padat, hangat dan habis dibaca sekali duduk.

Untuk itu, hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah :

  • Sebuah cerpen harus membicarakan suatu masalah tunggal. Jadi tidak seperti menulis cerita roman atau novel, semua peristiwa dibahas secara menyeluruh dan mendetail yang terdiri atas episode-episode.
  • Harus membatasi diri dalam melukiskan watak-watak dan suasana yang digambarkan. Tidak terperinci penguraiannya seperti roman atau novel.
  • Persoalan yang dikemukakan harus jelas, padat dan hangat. Tidak terlalu over dalam menggunakan kalimat-kalimat yang berlebih untuk menerangkan suasana atau peran yang ada.
  • Sedapatnya cerita pendek tersebut menggambarkan seolah-olah peristiwa atau masalah tersebut benar-benar atau sedang terjadi.

Ilham
Sebetulnya ilham itu banyak dan tersebar di mana-mana. Seorang pengarang sebenarnya tidak perlu menyulitkan diri dengan mencari-cari atau menunggu datangnya ilham. Seorang penulis yang aktif dan cekatan dalam melihat ilham adalah seorang yang dekat dengan benda, memperhatikan sesuatu, peristiwa dan alam.

Banyak benda dan apa saja, sebetulnya dapat memberikan dan menjadikan ilham. Mobil, manusia, hewan, perkataan, bacaan, suatu kejadian, semua itu dapat memberikan dan dijadikan ilham, asalkan saja kita tahu mengambil sesuatu yang menarik untuk dibahas dan dituangkan dalam sebuah cerita.

Rangsangan yang ditimbulkan oleh rasa ketertarikan tadi adalah merupakan ilham membukakan inspirasi untuk mengarang. Tetapi ilham tersebut masih mentah. Mereka harus diolah dahulu untuk menjadi sebuah karangan atau cerita pendek. Di bawa pulang, digodok dan dimasak sedemikian rupa melalui coretan atau ketikan di atas kertas.

Jika  perlu dicatat supaya jangan lupa. Dari itulah maka pengarang dianjurkan mempunyai buku kecil yang merupakan tempat catatan-catatan, yang selalu dibawanya ke mana ia pergi.

Lain dari itu, suatu peristiwa bisa terjadi, misalnya dalam suatu pembicaraan orang ada kata-kata yang dapat memancing perasaan si pengarang atau ada sebuah kata atau kalimat yang cukup menarik dan menjadi perhatian.

Harus banyak membaca
Bacaan adalah sumber pengetahuan, dan tempat seorang pengarang belajar mengetahui dan belajar menguasai bahasa dan perkataan. Seorang pengarang harus banyak membaca. Bakat, pergaulan dan pengalaman saja tidak cukup dijadikan bekal sebagai seorang pengarang. Orang tidak mungkin mengarang dan bercerita baik dan banyak jikalau dia tidak banyak membaca. Karena dia tidak mempunyai banyak pembendaharaan kata, bahasa dan ilmu pengetahuan.

Sebetulnya pekerjaan seorang pengarang itu dapat dikatakan selalu belajar. Membaca dan menulis, menulis dan membaca. Setiap waktu luang hendaklah diisi dengan membaca. Terutama bila rangsangan atau inspirasi untuk mengarang tidak ada. Sekali lagi baiknya diisi dengan membaca.

Apabila seseorang hanya menulis dan mengarang terus, tak pernah membaca, maka suatu ketika akan datang saatnya ia akan kehabisan bahan. Karena segala pengalaman dan pengetahuan tak pernah ditambah melainkan dikuras habis. Dan apabila seorang pengarang mengarang hanya berdasarkan pengalaman yang pernah dialami saja maka ia tidak akan bisa banyak menulis.

Gaya pengarang
Masing-masing pengarang memiliki gaya tersendiri. Ada pengarang yang senang dan terkenal dengan kalimat yang pendek-pendek, dan ada yang sebaliknya.

Gaya Motinggo Busye lain dengan gaya Abdullah Harahap. Gaya mengarang Ashadi Siregar lain dengan gaya mengarang Marga T. Nh. Sini dan sebagainya.

Masing-masing pengarang mempunyai gaya masing-masing. Gaya ini tidak dapat diajarkan dan ditiru-tiru. Setiap pengarang dipengaruhi watak dan latar belakangnya masing-masing yang tentu saja berbeda. Bila dipaksakan meniru gaya seseorang pengarang lain maka karangan tersebut akan terasa kaku. Karena tidak sesuai dengan watak dan jiwa si pengarang sendiri. Bagaimanapun tiruan adalah tetap tiruan dan tidak sebaik yang asli (original). Setiap pengarang hendaklah mengembangkan dan menumbuhkan gayanta sendiri, yaitu sesuai dengan jiwa, watak atau karakternya sendiri.

Perasaan yang tajam
Seorang pengarang adalah seorang yang mempunyai perasaan yang halus dan tajam. Dia tahu bagaimana merasakan perasaan kecewa, rindu, sakit, bercinta, dihina, gembira dan perasaan-perasaan lainnya yang menyentuh lubuk hati.Kemudian perasaan-perasaan tersebut turut pegang peranan dalam cerita yang dikarangnya. Dari itu, perasaan perlu diasah agar dapat melahirkan khayalan atau angan-angan yang dapat menyentuh perasaan para pembaca.

Memang dari seorang pengarang dituntut harus banyak tahu tentang seluk-beluk kehidupan dan perasaan masyarakat. Masyarakat yang kecewa, masyarakat atau orang tertindas, terhina, berbahagia dan sebagainya.

Secara garis besar, kedudukan pengarang dalam sebuah cerita pendek dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu :
1. Pengarang berdiri di luar cerita
Dalam hal ini pengarang tidak terlibat. Maksudnya tidak berperan aktif. Tetapi melihat dan memikirkan serta mengetahui apa-apa yang diterangkan oleh para pelaku dalam cerita tersebut. Dalam hal ini pengarang seolah-olah hanya menceritakan kisah atau peristiwa yang terjadi atau apa yang dilihatnya.2. Pengarang ikut dalam cerita.
a. sebagai pelaku utama.
b. sebagai pelaku yang tidak utama.

Yang perlu diingat dalam mengarang cerita pendek adalah
1. Hendaklah mengundang pandangan, pendapat atau interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Sebuah cerita pendek hendaklah menimbulkan sebuah hempasan dalam pikiran pembaca.
3. Cerpen tersebut harus dapat menyimpulkan rasa pembaca terbawa perasaannya oleh jalan cerita. Menarik perasaan dan pikiran.
4. Harus sanggup memancing tanda tanya apa dan bagaimana seterusnya, yang dipancing dengan penguraian insiden-insiden dan permasalahan yang dipilih.

Untuk itu, semua cerita pendek harus mempunyai :
1. Pokok permasalahan yang menguasai jalan cerita.
2. Peran utama.
3. Jalan cerita yang padat.

Saya kira itu yang dapat saya sampaikan mengenai tips membuat cerita pendek atau cerpen bagi pemula. Bukan saya keminter, saya sendiri juga masih harus banyak belajar dari pengarang-pengarang yang sudah terkenal. Meskipun teorinya dimengerti namun untuk mewujudkannya tidaklah mudah. Perasaan, pengalaman, penyisipan kata yang tepat dan lain-lain merupakan bumbu masakan sebuah cerpen yang indah dan enak dibaca.

tags:

Related For 3 pokok utama teori membuat cerpen