Awas! plastik mengandung zat racun

Diposting pada

Advertisement

Memang, penggunaan plastik dalam hidup sehari-hari saat ini hampir tak terhindarkan. Namun, mengingat plastik mengandung zat racun, kita tetap harus berhati-hati. Pada dasarnya ada dua jenis plastik, yakni plastik food grade yang aman untuk makanan dan nonfood grade yang digunakan untuk keperluan lain.

Para ahli belum bersepakat benar berapa besar batas migrasi monomer maupun aditif yang berbahaya. Penelitian terhadap binatang percobaan memang menggunakan megadosis, sampai 3.000 kali dari dosis yang mungkin termakan oleh manusia.

Tetapi, bagaimanapun efek racun itu terbukti ada dan akibatnya sangat potensial. Makanya, Badan Kesehatan Sedunia (WHO) sejak tahun 1984 merekomendasikan pemakaian plasticiser harus ditekan serendah mungkin.

Tindakan teraman adalah mengurangi plastik dan mempertahankan bahan alami. Menggunakan daun pisang, daun jati, janur, dan sebangsanya, untuk mengemas makanan merupakan cara terbaik. Tidak saja aman bagi kesehatan, tetapi juga lingkungan. Apalagi kalau makanan itu harus dipanaskan.

Membuat lontong dengan pembungkus plastik, seperti banyak dilakukan sekarang, merupakan contoh tindakan yang salah. Begitu juga mewadahi bakso, sop, dan makanan panas lain dengan plastik. Lebih bahaya lagi jika yang dipakai plastik nonfood, misalnya yang terbuat dari PVC.

Untuk membungkus bahan makanan yang disimpan dalam kulkas dan memasak dalam oven microwave biasanya digunakan plastik film pembungkus, yang disebut cling film.

Pilihlah yang foodgrade, yakni jenis PP (polyethylene), karena tidak mengandung plasticiser. Hindari pemakaian plastik yang mengandung monomer vinil klorida (PVC, PVDC), stiren (PS), atau akrilonitril (ABS) untuk makanan. Sayangnya, tidak semua jenis plastik di Indonesia mencantumkan bahan dasarnya, jadi tidak bisa ketahui apakah plastik tersebut berbahaya atau tidak.

Gambar Gravatar
Situs Informasi dan Teknologi