Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Bakar Jembatan

16 Mei 2011 | Intelegensi

Bakar Jembatan. Julius Caesar adalah komandan perang yang berhasil merebut pantai Brittania karena strateginya yang cukup unik. Dalam catatan sejarah, tercatat bahwa ketika Caesar berhasil mendaratkan pasukannya pada tengah malam yang dingin, Sang Komandan berdiam diri sejenak, sementara pasukannya sibuk merapatkan dan menyembunyikan perahu-perahu yang sudah mereka tumpangi.

Mereka berpikir, setelah pertempuran selesai akan kembali lagi ke kapal induk dengan menggunakan perahu tersebut. Namun, betapa kagetnya seluruh pasukan begitu mendengar perintah Sang Komandan, “Bakar semua perahu yang sudah kamu daratkan!”

Sebagai pasukan yang taat kepada komandan mereka pun dengan ragu-ragu akhirnya membakar semua perahu sampai hangus. Akhirnya, semua pasukan bertempur habis-habisan, karena mereka berpikir tidak akan kembali lagi. Jadi harus menang atau bertempur.

Perjalanan menuju sukses kerap kali diwarnai oleh kekhawatirran sehingga terkadang membuat kita cenderung untuk kembali, bahkan mundur dari pergumulan hidup yang selalu dilalui. Hal ini pula yang membuat banyak orang mengalami stagnasi pertumbuhan dalam meraih keberhasilan hanya karena takut tidak berhasil atau takut ditolak oleh orang lain.

John C. Maxwell pernah mengatakan, “Kekhawatiran akan menghambat tindakan, tiadanya tindakan menuntun kita pada ketidak tahuan, dan ketidak tahuan akan melahirkan kekhawatiran.” Jadi, ketakutan jika tidak disikapi dengan baik, justru akan melahirkan sejumlah kekhawatiran baru.

Denis Waitly dalam bukunya Seeds Greatness (1983) memaparkan suatu hasil penelitian yang mengejutkan. Dikatakan bahwa 60 persen kekhawatiran kita sebenarnya sama sekali tidak mendasar, ketakutan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Sebanyak 20 persen kekeliruan kita terfokus pada masa lalu, yang sama sekali di luar kekuasaan kita.

Sedangkan 10 persen kekhawatiran kita didasarkan kepada hal-hal yang sedemikian sepele, sehingga tidak menghasilkan perbedaan dalam kehidupan kita.Dari sisa 10 persennya, hanya 4 hingga 5 persen ketakutan ini dianggap beralasan. Statistik Denis ini sekaligus menunjukkan bahwa setiap waktu atau energi yang kita serahkan kepada kekhawatiran itu sama sekali sia-sia dan 95 persen tidak produktif, bahkan hal itu pula yang membuat kita enggan untuk memulai sesuatu.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita di atas adalah, jika sudah memulai sesuatu (tentu berdasarkan pertimbangan yang matang) adalah memadamkan semua kemungkinan untuk kembali. Beberapa “daya tarik” yang mampu menarik kita untuk kembali adalah keterikatan pikiran dan nostalgia kesuksesan masa lalu dan fasilitas yang mungkin masih terkenang dengan segala kemudahannya.

Daya tarik yang demikian membuat pikiran kita yang sedikit banyak akan menciutkan nyali untuk menerima tantangan yang ada dimata kita. Itulah sebabnya, kata-kata yang sering muncul dalam kondisi demikian antara lain ‘dulu’ atau seandainya.

Bahkan, ketika perjalanan kita harus mengalami perubahan rutepun, kembali ke jalan awal merupakan pantangan kecuali jika mengalami hal-hal yang memang di luar perencanaan dan kekuasaan manusia. Inilah yang pernah dituturkan oleh Isabel Moore, “Kehidupan ini ibarat jalan satu arah. Seberapa banyakpun perubahan rute yang anda tempuh, tidak satupun akan membawa anda kembali. Begitu anda mengetahui dan menerima hal itu, kehidupan akan tampak menjadi jauh lebih sederhana”.

Memulai aktifitas diawal tahun, perencanaan yang baik menjadi dasar aktifitas yang kuat, visi yang jelas sangat membantu mengarahkan aktifitas secara efektif dan efisien, sedangkan komitmen untuk terus maju membuat kita akan mengalami hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, berupa percepatan penyelesaian tugas-tugas yang terencana.

Dalam skala perusahaan, hasil rapat kerja telah menghasilkan keputusan strategis, tentu sudah saatnya dieksekusi (dijabarkan, disosialisasikan dan diimplementasikan) dengan bijak. Menghambat pengeksekusian tentunya akan menghambat berputarnya kinerja perusahaan ke arah lebih baik, apalagi berpikir untuk kembali melaksanakan pekerjaan yang tidak diprogramkan. Walaupun prinsip “terus maju” tidak terlepas dari berbagai resiko, namun perencanaan yang matang merupakan bagian yang proporsional untuk mengantisipasi sejumlah resiko yang ada.

Peristiwa Jendral Julius Caesar di atas sekalipun mengingatkan pada sebuah ilustrasi tentang seseorang pada sebuah ilustrasi tentang sesorang yang menyeberang jembatan gantung. Begitu ia sampai di seberang, ia lalu mengambil api dan membakar jembatan tersebut sehingga sekalipun ia berhadapan dengan binatang buas atau apapun yang membahayakannya, ia tidak akan kembali tetapi terus menghadapinya.

Kalaupun terlalu berat, paling mengubah rute perjalanan. Mari kita “bakar jembatan” kita, yaitu segala sesuatu yang membuat kita kembali dan surut untuk maju. Yang penting bukan dari mana kita memulai, melainkan di mana kita berakhir. Inilah yang menggambarkan diri kita sebenarnya.

tags:

Related For Bakar Jembatan