Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Budaya mudik tiap tahun kaum urbanis

22 Juni 2012 | Culture

Budaya mudik tiap tahun kaum urbanis. Dua bulan lagi lebaran akan tiba. Magnit lebaran seperti biasa pasti selalu menarik kaum urbanis kembali ke kampung halaman, yang sering disebut mudik.

Tidur di terminal semalam tak mengapa, mendorong anak istri masuk ke dalam kereta api lewat jendela juga sah-sah saja. Kalau perlu menempati kamar kecil pun tidak masalah asalkan bisa terangkut mudik.

Tarikan mudik bukan main kuatnya. Dari tahun ke tahun tarikan ini selalu eksis dan terjadilah fenomena eksodus sentripetal yang meliputi jutaan orang. Dapat dihitung sendiri berapa uang yang tersangkut dalam tradisi ini. Entah untuk biaya transportasi, makan minum di jalan, oleh-oleh dan dana yang ditinggal di kampung halaman pastilah mencapai trilyunan.

Kebutuhan, tekanan-tekanan ekonomi, tantangan yang selalu ada menjadikan hidup di kota-kota berdenyut lebih cepat dan kuat dibanding dengan hidup di desa. Perbedaan denyut ini dirasakan eksisnya setiap tahun untuk dialami barang sesaat.

Hidup di desa yang miskin tantangan, tekanan ekonomi yang kurang dan kebutuhan yang kurang mendesak dibanding dengan di kota, tampaknya perlu ditapak tilas setahun sekali sambil bernostalgia.

Dan siapa tahu dengan atribut fisiknya kaum urbanis dapat membanggakan bahwa hidup di kota tidaklah seenak yang dibayangkan. Artinya harus ulet, rajin, cerdik, pandai-pandai memanfaatkan kesempatan dan harus baca koran tiap hari.

Jutaan kaum urbanis baik yang ber-KTP ttap maupun tidak, memang memberi warna tersendiri di desanya dan dikagumi oleh para remaja desa terutama atribut fisik, ceritanya dan informasi mutakhir tentang hidup di kota.

Mungkin, nanti kalau sudah tidak ada perbedaan atribut fisik antara kota dan desa, tidak ada cerita dan tidak ada informasi mutakhir tentang hidup di kota, fenomena mudik tidaklah sehebat sekarang ini.

Related For Budaya mudik tiap tahun kaum urbanis