Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Ciri karakteristik pandangan Jawa

11 Oktober 2012 | Culture

Ciri karakteristik pandangan Jawa. Mayoritas pakar dan pengamat budaya Jawa berpendapat bahwa ciri karakteristik pandangan Jawa adalah sinkretisme. Namun, cukup banyak pula pengamat yang tajam penglihatannya meragukan kesimpulan semacam itu.

Pengamatan yang tajam akan dapat melihat bahwa kecenderungan yang paling menonjol dalam budaya Jawa bukanlah kecenderungan sinkretik yang berupa kecenderungan atau semangat untuk membangun suatu sistem kepercayaan (termasuk agama) baru dengan menggabungkan unsur-unsur yang berasal dari sistem-sistem kepercayaan yang telah ada.

Para pengamat yang menyangkal sinkretisme sebagai ciri karakteristik pandangan Jawa itu mencoba mencari istilah-istilah lain yang dianggap lebih tepat, seperti istilah mosaik (Abdullah Ciptoprawiro), coalition (Gonda), atau sekadar “percampuran” atau vermenging (Kern). Istilah-istilah lain lagi yang juga dipakai oleh sementara pakar sebagai pengganti istilah “sinkretisme” adalah amalgamation, blending, fusi atau fusion (peleburan) dan lain-lain.

Memang dalam penghayatan sinkretisme bukanlah ciri karakteristik pandangan Jawa. Gejala sinkretisme dapat kita temui di mana-mana. Juga dalam berbagai agama yang kita kenal sekarang ini. Bahkan dalam A Dictionary of Comparative Religion dinyatakan bahwa hanya sedikit saja agama yang benar-benar bebas dari sinkretisme. Di kalangan masyarakat Jawa, kecenderungan sinkretisme memang ada.

Tetapi adalah tidak benar apabila disimpulkan bahwa sinkretisme adalah merupakan ciri karakteristik pandangan hidup Jawa. Yang betul-betul merupakan ciri karakteristik menurut Ir. Sujamto adalah yang dinamakan tantularisme.

Istilah tantularisme ini diperkenalkan oleh Ir. Sujamto sejak tahun 1990 dalam ceramahnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta bulan Juni tahun itu. Sekalipun istilahnya baru, namun sebenarnya tantularisme adalah semangat yang sudah ada sejak zaman dahulu dan tumbuh subur di kalangan masyarakat Jawa.

Berbagai istilah alternatif terhadap sinkretisme tersebut menurut persepsi Ir. Sujamto juga belum bisa menggambarkan semangat yang terdapat di dalam dan merupakan ciri karakteristik pandangan Jawa. Istilah-istilah tersebut terkesan hanya menunjuk pada bentuk dan proses yang terjadi. Bukan pada semangatnya.

Oleh karena itu, istilah-istilah tersebut demikian pula konsep yang ada di balik istilah-istilah itu, juga tidak mampu menunjuk secara tegas perbedaannya yang mendasar dalam sinkretisme.

Juga Prof.J.H.C. Kern yang amat mendalami hal ini dan telah menuangkan pendapatnya antara lain melalui karangan “Over de vermenging van Civaisme en Buddhisme op Java, naaraanleiding van het Oudjavaansch gedicht Sutasoma” rupanya juga hanya terpukau pada proses percampuran atau vermenging antara dua agama yang menjadi obyek penelitiannya, yaitu Civaisme (Hindu) dan Buddhisme.

Beliau kurang menangkap semangat yang melandasi proses itu, yaitu semangat yang menghormati semua agama tanpa keinginan untuk meramunya menjadi satu agama baru. Semangat itulah inti dari pesan Empu Tantular lewat Sutasoma. Dan semangat itulah yang dinamakan Ir. Sujamto sebagai tantularisme.

tags:

Related For Ciri karakteristik pandangan Jawa