Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Harga diri tidak dinilai dari yang tampak

20 Juni 2012 | Intelegensi

Harga diri tidak dinilai dari yang tampak. Pentingkah harga diri untuk manusia? Saya yakin semua pastilah menjawab ya. Gara-gara harga diri yang tersinggung, suami istri dapat bertengkar, suami istri dapat bercerai, dua sahabat dapat bertengkar, dan lain sebagainya. Harga diri adalah cerminan kebutuhan utama manusia untuk diakui kemanusiaannya.

Gara-gara membela harga diri, terkadang kita dengar ada orang atau kelompok yang rela mati. Balas dendam model vedetta juga dapat bermotifkan harga diri yang terluka. Dalam bentuk lain dapat dilihat pada reaksi orang terhadap kemiskinan yang menimpa.

Yang mempunyai harga diri tinggi, walaupun harus hidup miskin, tetap tidak mau jadi pengemis. Sebaliknya, yang kurang punya harga diri dapat dengan mudah memutuskan untuk menjadi pengemis. Apa pengertian harga diri dan bagaimana kita menilainya?

Coopersmith mendefinisikan harga diri sebagai perangkat sikap dari penilaian terhadap diri-sendiri.. Sejak lama (tahun 1892) W. James telah merumuskan harga diri sebagai perbandingan antara sukses yang dicapai dengan tujuan dan aspirasi yang diinginkan.

Atau dengan kata lain, harga diri adalah perbandingan antara self dan idealself. Apabila kita tidak berhasil mencapai ideal self, maka kita akan menilai diri kita sebagai orang yang gagal, bodoh, tidak berguna dan sebagainya.

Faktor internal

Ketidak berhasilan mencapai sukses pada umumnya disebabkan oleh dua hal.
1. Pertama, kita kurang berusaha sungguh-sungguh untuk mencapainya.
2. Kedua, karena standar-standar internal yang ditetapkan untuk dicapai, ternyata terlalu tinggi sehingga sulit atau bahkan tidak mungkin dijangkau.

Kedua hal tersebut merupakan faktor dalam diri kita yang sangat dominan dalam mengembangkan harga diri. Berbagai kegagalan membuat kita semakin rendah menilai diri sendiri. Sebaliknya semakin sering kita sukses, maka rasa percaya diri cenderung bertambah karena harga diri yang meningkat.

Faktor eksternal

Selain faktor internal, ada beberapa faktor eksternal yang juga berperan dalam pembentukan harga diri seseorang. Yaitu:
1. Pengalaman Sosialisasi
Pertama kali manusia mengalami sosialisasi adalah dalam keluarga, terutama dengan kedua orang tuanya. Coopersmith menemukan 3 faktor sosialisasi yang sangat positif bagi perkembangan harga diri seorang anak yaitu, penerimaan oleh orang tua dan batasan yang jelas tentang hal-hal yang harus dicapai anak.

Perkembangan ini dapat terus berlanjut di masa dewasa jika individu mendapatkan perlakuan yang sama dari atasan, guru, atau rekan-rekan orang dewasa lainnya yang berhubungan dengannya sehari-hari.

2. Daya tarik fisik
Kesan terhadap diri sendiri banyak didasari atas pendapat orang lain tentang diri kita, termasuk penilaian terhadap hal-hal berkaitan dengan fisik. Ini sangat berperan terutama pada masa anak-anak yang dianggap tidak menarik oleh rekan-rekannya cenderung bertingkah laku lebih agresif dan anti sosial.

Hal ini sering merupakan akibat perlakuan diskriminatif yang mereka terima. Misalnya, untuk kenakalan yang sama, seorang anak yang atraktif akan lebih dimaklumi dan dimaafkan daripada seorang anak yang tidak menarik. Mungkin anda pernah mendengar komentar seorang guru terhadap seorang muridnya yang nakal dan kebetulan tampangnya tidak menarik. Sudah jelek, nakal lagi!

Semua itu sangat erat kaitannya dengan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Bahwa apa yang cantik itu baik dan apa yang buruk itu jahat. Lihat saja pada banyak film, tokoh penjahat sering ditampilkan dalam wajah-wajah jelek, keras dan seram.

Karena itu, anak-anak yang secara fisik kurang menarik dan mendapatkan penilaian negatif untuk itu, cenderung mengembangkan rasa rendah diri. Sebaliknya, mereka yang cantik, ganteng yang sejak kecil selalu dipuji-puji karena daya tarik fisik yang dimilikinya cenderung mengembangkan harga diri yang tinggi. Bahkan, jika berlebihan dapat membuat mereka angkuh.

3. Ras dan jenis kelamin
Ras atau suku bangsa juga dapat mempengaruhi pembentukan harga diri seseorang. Mereka yang lahir sebagai anggota masyarakat dari suatu ras atau suku bangsa yang dianggap minoritas dan warga negara kelas dua akan dapat merasakannya. Berbagai perlakuan diskriminatif dapat membuat menjadi kekurangan harga diri.

Dalam hal jenis kelamin, peran tradisional perempuan yang berorientasi kepada urusan domestik rumah tangga sering dianggap minoritas dan warga negara kelas dua akan dapat merasakannya. Berbagai perlakuan diskriminatif dapat membuat mereka menjadi kekurangan harga diri.

Faktor-faktor eksternal tersebut di atas adalah hal yang sulit dikontrol. Yang sepenuhnya ada dalam pengendalian kita adalah faktor internal, yaitu bagaimana kita menetapkan level of aspiration bagi ideal self kita secara realistik, lalu berusaha secara optimal untuk mencapainya menjadi suatu sukses. Semakin sering kita mengalami keberhasilan, semakin bangga pula kita terhadap diri sendiri.

Tentunya penilaian keberhasilan tersebut tidak lepas dari penilaian para “pengamat” disekitar, seperti orang tua, guru, atasan, saudara, teman dan lain-lain. Apabila mereka juga melihat dan menilainya sebagai keberhasilan, maka penghargaan pun datang mengalir kepada kita. Pada saat itu, tidak lagi dilihat apakah kita itu buruk muka atau berasal dari ras/suku bangsa minoritas tertentu, atau kita hanya perempuan atau hanya anak kemarin sore.

Nah, daripada kita pusing memikirkan bagaimana mengubah faktor-faktor eksternal yang diluar jangkauan kekuasaan kita, mengapa tidak memulainya dari dalam diri sendiri. Sekarang juga mulailah!

tags:

Related For Harga diri tidak dinilai dari yang tampak