Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Istilah kejawen dan daerah kejawen

11 Oktober 2012 | Culture

Istilah kejawen dan daerah kejawen. Istilah kejawen sering digunakan orang dengan bermacam-macam pengertian. Secara garis besarnya ada dua spek, terhadap makna istilah kejawen itu sering dipergunakan, yaitu aspek kultural dan aspek geografis. Secara etimologis istilah ini berasal dari kata Jawi (bentuk halus atau krama dari kata “Jawa”), yang memperoleh awalan ke (ka) dan akhiran an. Jadi terbentuknya kata kejawen ini mirip dengan kata-kata kabupaten, kemantren dan lain-lain.

Secara geografis-administratif, dikenal istilah Praja Kejawen, yaitu daerah-daerah bekas kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Istilah ini antara lain digunakan oleh Soedarisman Poerwokoesoemo dalam bukunya Daerah Istimewa Yogyakarta (1984:25).

Akan tetapi istilah yang lebih umum untuk menunjuk daerah tersebut adalah “daerah kejawen”. Istilah ini antara lain juga dipakai oleh Sartono Kartodirdjo dan lain-lain dalam buku Perkembangan Peradaban Priyayi (1987:).

Istilah “daerah kejawen” ini sekarang lebih populer ketimbang Praja Kejawen, karena kata Praja itu jelas terasa mengacu pada aspek administrasi pemerintahan. Padahal di sini yang lebih penting bukanlah aspek pemerintahan melainkan aspek budaya atau kultural.

Jadi daerah kejawen adalah daerah budaya Jawa. Dalam hubungan dengan aspek kultural ini perlu diperhatikan adanya beberapa klasifikasi daerah budaya Jawa. Dalam membagi lingkungan budaya di Jawa Tengah, Ismail menyebut adanya tiga lingkungan budaya, yaitu:
1.Lingkungan budaya Kraton atau Nagaragung.
2.Lingkungan budaya Bagelen-Banyumas.
3.Lingkungan budaya Pesisir.

Lingkungan budaya kraton atau lingkungan budaya Nagaragung itu sering pula disebut sebagai lingkungan budaya kejawen. Sedangkan lingkungan budaya Bagelen-Banyumas sering disebut sebagai lingkungan budaya Kedu-Magelang Banyumas, dengan akronim Dulangmas.

Dilihat dari aspek kebudayaan, lingkungan-lingkungan kebudayaan itu tentulah tidak terikat pada batas-batas administrasi pemerintahan. Lebih-lebih kalau dikaitkan dengan batas-batas administrasi pemerintahan yang ada sekarang.

Dalam hubungan ini, daerah budaya Jawa tentulah tidak terbatas pada wilayah Propinsi Jawa Tengah saja, akan tetapi juga meliputi Daerah istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Timur. Bahkan juga di berbagai propinsi yang mempunyai kelompok-kelompok masyarakat Jawa perantauan.

Apakah “daerah budaya Jawa” itu identik dengan “daerah kejawen”? Saya kira pertanyaan ini tidak mungkin akan terjawab dengan tegas. Karena masalahnya hanyalah masalah istilah dan masalah itu pada hakekatnya hanyalah masalah kesepakatan.

Oleh karena itu saya dapat memahami (meskipun sepenuhnya tidak menyetujui), klasifikasi Kodiran yang membagi daerah budaya Jawa itu ke dalam tiga daerah, yaitu:
1.Daerah Kejawen.
2.Daerah Pesisir.
3.Daerah Ujung Timur.
Yang dimaksud daerah kejawen itu meliputi daerah-daerah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri.

Dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah kejawen adalah daerah pusat kebudayaan Jawa. Jadi, kalau kita mengacu pada pembagian wilayah pada zaman kerajaan Mataram yang dinamakan sebagai sistem Tri Mandala Praja, maka daerah kejawen itu meliputi mandala-mandala Nagara (Nagari) dan Nagaragung (Nagarigung). Mandala Mancanegara tidak termasuk di dalamnya.

Istilah kejawen dalam perkembangannya tidak hanya dipakai dalam konteks geografis, baik administratif maupun kultural. Tidak jarang kita menjumpai istilah-istilah “pandangan kejawen”, “filsafat kejawen”, “ilmu kejawen”, “tradisi kejawen” dan lain-lain.

Untuk dapat mewadahi semuanya itu, maka istilah kejawen ini dianggap identik dengan Weltanschauung Jawa. Dengan demikian berbagai pengertian seperti pandangan hidup Jawa, filsafat Jawa, wawasan budaya Jawa, tradisi Jawa (tradisi kejawen) dan lain-lain itu tercakup ke dalamnya.

tags:

Related For Istilah kejawen dan daerah kejawen