Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Tuhan

11 Oktober 2012 | Culture

Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Tuhan. Orang Jawa Pada umumnya percaya kepada Tuhan. Akan tetapi kepercayaannya itu biasanya bersifat non doktriner, terbuka dan tidak kaku. Di mata masyarakat Jawa, bahwa Tuhan tan kena kinayangapa (tak dapat dibayangkan/dilukiskan wujud dan keberadaannya). Jadi, pada dasarnya persepsi tentang Tuhan itu tidak bersifat anthropomorfis atau non-material.

Namun masyarakat pada umumnya menghayati dan memandang Tuhan sebagai sesuatu yang “personal”, yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi. Ini terlihat dari sebutan Gusti atau Pangeran yang selalu dipakai dalam menyebut Tuhan.

Adapun tentang nama “Tuhan” itu, masyarakat biasanya menyebut dengan bermacam-macam panggilan sesuai dengan sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Karena dalam keyakinan masyarakat, Tuhan tan kena kinayangapa itu tentulah tidak seperti manusia yang masing-masing mempunyai nama tertentu.

Diantara sebutan-sebutan Tuhan yang banyak dipakai oleh masyarakat adalah: Gusti Allah, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Asih, Gusti Ingkang Maha Agung, Gusti Sangkan Paraning Dumadi, Pangeran, Pangeran Kang Maha Agung, Pangeran Kang Akarya Jagat sak isine, Pangeran Kang Maha Wikan dan lain sebagainya.

Kecuali sebutan Gusti Allah yang jelas berwarna Islam, sebutan-sebutan lainnya itu adalah Jawa asli. Konon menurut Poerbatjaraka, sebelum masuknya agama Hindu, masyarakat telah mengenal Tuhan dengan sebutan Sang Hyang Taya. Sebutan ini sekarang sudah tidak pernah digunakan lagi.

Di kalangan tertentu kadang-kadang masih digunakan sebutan Sang Hyang Widhi atau Hyang Widhi saja. Salah satu sebutan Tuhan yang terdapat dalam Serat Dewaruci adalah Marbudyengrat, yang maknanya adalah Sang Pencipta Alam Semesta. Ini adalah juga sebutan Jawa Asli.

Persepsi tentang Tuhan sebagai tan kena kinayangapa itu sebenarnya dengan sendirinya telah menunjukkan bahwa pemikiran Jawa tidak ingin membatasi wujud dan hakekat Tuhan dengan suatu teori atau konsepsi tertentu. Tuhan adalah bersifat tak terbatas.

Ungkapan tan kena kinayangapa mengandung pengakuan bahwa pikiran dan logika manusia tak mungkin dapat menggapai dan memahami hakekat Tuhan yang sebenarnya dan seutuhnya. Yang terbatas tidaklah mungkin menjelaskan Yang Tak Terbatas.

Kepercayaan masyarakat Jawa

Meskipun masyarakat Jawa berkeyakinan bahwa Tuhan itu tan kena kinayangapa, akan tetapi setidak-tidaknya masyarakat percaya bahwa Tuhan itu meliputi seluruh alam semesta ciptaan-Nya. Tak ada ruang sekecil apapun di alam raya ini yang bebas dari keberadaan Tuhan. Juga Tuhan bersemayam dalam diri setiap manusia.

Oleh karena itu konsepsi manunggaling kawula kalawan Gusti bukanlah sesuatu yang asing bagi pemikir-pemikir Jawa sejak dahulu sampai sekarang. Kecenderungan ini diperkuat dengan sifat religiositas Jawa non doktriner, menyebabkan alam pemikiran Jawa merupakan lahan yang subur bagi tumbuhnya mistikisme dan aliran-aliran kepercayaan yang tidak tunduk kepada sesuatu agama yang formal.

tags:

Related For Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap Tuhan

Recent Post

Pada hari Selasa tanggal 8…
Benign chronic bullous disease of…
Herpes gestationis is a rankling…
Dermatitis herpetiformis is an endless…

Kategori