Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Kesempatan

25 Mei 2011 | Intelegensi

Kesempatan. Orang bijak pernah membagi tiga jenis manusia. Pertama, manusia bodoh, yaitu mereka yang selalu melalaikan dan mengesampingkan setiap kesempatan yang ada. Kedua, manusia baik, yaitu mereka yang selalu mengambil kesempatan yang datang kepadanya. Ketiga, manusia bijak, yaitu mereka yang selalu mencari kesempatan yang memungkinkan dirinya untuk terus berkembang tanpa harus banyak menunggu.

Di manakah kesempatan itu? Di luar atau dalam diri? Kesempatan sebenarnya berada dalam diri manusia. Kesempatan yang hakiki justru berada dalam individu tersebut. Artimya, respon kita terhadap peristiwa yang terjadi akan menggiring pemaknaan kita apakah itu kesempatan atau bukan.

Proses pemaknaan dan mengambil sesuatu itu sebagai suatu kesempatan atau peluang tidak semata-mata ditentukan oleh jenjang pendidikan atau jabatan, melainkan melalui cara kita memandang. Oleh karena itu, dalam kenyataannya ada dua jenis manusia yang dapat memaknai fenomena yang ada sebagai suatu kesempatan, yakni apportunist atau adventurer.

Sebagai contoh, ada begitu banyak kejadian dimana orang memanfaatkan kesempatan menjarah barang-barang orang yang mengalami kecelakaan sementara pemilik sedang sekarat. Atau dalam kejadian lain seseorang bisa bergabung dalam kelompok atau klub tertentu hanya untuk mencari kesempatan bagaimana supaya keinginan, ambisi, serta popularitas dirinya terangkat.

Orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dengan niat yang tidak tulus, bahkan cenderung mengorbankan orang lain, inilah yang dikenal dengan kaum apportunist. Ketika orang lain memandang suatu kejadian atau fenomena sebagai ajang melayani orang lain, justru cara pandangnya yang negatif mengatakan dan mendorong dirinya untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sebaliknya, mereka yang mampu memanfaatkan kejadian yang ada sebagai sarana untuk membangun dirinya dan orang lain maupun perusahaan adalah mereka yang dikenal dengan kaum adventurer. Mereka bahkan mampu melihat apa yang tidak mungkin dimata orang lain menjadi mungkin.

Masih segar dalam ingatan kita satu pepatah indah pernah menjadi goresan tinta emas dunia kewirausahaan, “Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang bertanya mengapa?”

Kehadiran mereka di tengah-tengah lingkungan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain untuk mengembangkan kompetensi. Mereka tidak segan-segan begbagi kepada orang lain, tanpa rasa takut untuk disaingi atau popularitas mereka hancur. Mereka tahu bahwa semakin banyak memberi inspirasi, semakin peka pula instuisinya dalam melihat kejadian sebagai suatu kesempatan.

Dalam skala perusahaan, tampaknya kita membutuhkan kaum adventurer untuk membangun perusahaan, yakni mereka yang selalu menyukai tantangan pekerjaan yang progresif. Ketika perusahaan merasakan betapa berat memutar roda organisasi di tengah-tengah persaingan dan situasi perekonomian yang demikian ketat, kehadiran kaum adventurer ini justru memberi harapan baru.

Mereka tidak berkomentar, namun mampu memberikan solusi terbaik dan proporsional secara profesional. Sebaliknya, perusahaan saat ini tampaknya tidak membutuhkan kaum apportunist, yang hanya tahu bagaimana meningkatkan keuntungan dan popularitas diri tanpa melihat kondisi perusahaan.

Kejadian boleh sama, perubahan yang terjadi di lingkungan kitapun mungkin sama. Akan tetapi, untuk menjadi apportunist atau adventurer adalah suatu pilihan. Mari kita memilih menjadi adventurer yang memiliki pikiran selangkah lebih maju dalam memaknai setiap kejadian. Saat orang lain jalan, kita mulai berlari. Saat orang lain berlari kita sudah sampai, Saat orang lain sampai kita istirahat. Saat orang lain istirahat, kita sudah mulai jalan kembali. One Step Abead.

tags:

Related For Kesempatan