Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Lemparan Batu dan Pilihan

25 April 2011 | Intelegensi

Lemparan Batu dan Pilihan. Terkadang, dalam kehidupan ini telinga kita sudah terlalu kebal terhadap suara-suara peringatan yang bertujuan membawa kita ke arah kehidupan yang lebih baik. Popularitas,ambisi, kesombongan, kekayaan, pangkat, dan segala ambisi yang dimiliki sering membutakan nurani dan menumpulkan ketajaman pendengaran kita terhadap alunan musik instropeksi yang merdu.

Setelah sekian jam dilanda gempa yang cukup dahsyat, kota Pensylvenia di Amerika Serikat mengalami porak poranda yang cukup hebat. Oleh sebab itu, pemerintah setempat merencanakan untuk segera memulihkan kota.

Suatu saat, mandor bangunan yang memimpin renovasi pemulihan kota berjalan-jalan sambil melakukan pengawasan terhadap pekerjaan perbaikan kota tersebut. Saking asyiknya berjalan, sang mandor lupa beberapa langkah didepannya terbentang kabel listrik beraliran tinggi yang siap merenggut nyawanya.

Pekerja yang berada beberapa meter di belakangnya melihat bahaya yang mengancam sang mandor, merekapun kemudian mencoba untuk mengingatkan dengan berteriak. Namun teriakannya nyaris tak terdengar ditelan suara deru mesin dan traktor yang ada di sekitar tempat itu.

Demi menyelamatkan mandornya, pekerja tersebut mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah kepala sang mandor dan mengenainya hingga berdarah. Mandor pun kaget dan marah sambil melihat ke belakang, mencari siapa yang telah melempar batu kepalanya.

Begitu sang mandor menoleh ke belakang, pekerja yang melemparnya tadi langsung angkat tangan dan menunjuk ke arah kaki sang mandor. Apa yang dilihatnya membuat sang mandor shock dan kaget luar biasa, karena dua langkah lagi ke depan kakinya akan menyentuh kabel listrik yang bertegangan tinggi. Untunglah ada pekerja yang melemparkan batu ke kepalanya untuk mengingatkan bahwa ada bahaya besar yang siap mengancam. Kepala sang mandor memang berdarah, namun nyawanya tertolong.

Terkadang, dalam kehidupan ini telinga kita sudah terlalu kebal terhadap suara-suara peringatan yang bertujuan membawa kita ke arah kehidupan yang lebih baik. Popularitas, ambisi, kesombongan, kekayaan, pangkat, dan segala ambisi yang dimiliki sering membutakan nurani dan menumpulkan ketajaman pendengaran kita terhadap alunan musik instropeksi yang merdu.

Ada kalanya seseorang harus “dilempar batu” dulu untuk memposisikannya kembali agar tidak terjerumus lebih jauh. Seorang rekan terpaksa harus berurusan dengan pengadilan akibat cara memasukkan barang yang dilakukannya tidak prosedural. Seorang saudara harus bolak-balik chek up akibat sistem metabolisme tubuhnya yang sudah tidak seimbang.

Seorang kakak kelas harus digrounded dari penerbangannya akibat kelalaian melakoni SOP (Standard Procedure). Bahkan, seorang kolega sempat kehilangan orang yang dikasihinya akibat stres yang dimunculkan dari kurangnya cinta yang diberikan.

Beberapa contoh “lemparan batu” itu ternyata membuat instropeksi yang mendalam untuk memposisikan kembali apa arti hidup dan tujuan bekerja yang sebenarnya. Itulah sebabnya setiap “lemparan batu” seyogyanya dimaknai sebagai bagian dari penegambangan kualitas diri yang optimal, sekalipun lingkungan mungkin memaknai sebagai suatu kegagalan, kejatuhan, maupun kehancuran. Kita jadi teringat apa yang dikatakan Confusius, bahwa kemenangan kita yang paling besar bukanlah karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena kita bangkit setiap kali jatuh.

“Apa yang terjadi di depan kita maupun di belakang kita sesungguhnya merupakan persoalan kecil dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita”, demikian Oliver Holmes menambahkan dalam salah satu narasinya.

Jadi, bukan peristiwa yang penting, namun respon terhadap peristiwa itulah yang dapat memunculkan intisari permaknaan hidup yang sesungguhnya. Tanpa “lemparan batu” yakni ketika laboratorium Thomas Alva Edison terbakar, mungkin saat ini kita masih hidup dalam kegelapan.

Kolonel Sanders pun harus mengalami “lemparan batu” bertubi-tubi berupa penolakan, hingga sekarang kita menikmati gurihnya Kentucky Fried Chicken. Bahkan, Galileo Galilei harus kena “lemparan batu” yang telak (dihukum mati) sekedar untuk membukmtikan bahwa bumi ini bulat.

Bagi mereka, sebagaimana yang dikutip oleh pakar manajemen Peter F. Drucker, lebih penting melakukan yang benar daripada melakukan dengan benar. Ada harga yang harus dibayar. Namun, harga ini ternyata tidak hanya mahal tetapi memiliki nilai yang tinggi sebagai sumbangsih yang berharga bagi pemikiran dan inovasi sejarah umat manusia.

Ketika hari ini kita mendengar suara yang mengalunkan instropeksi merdu maupun merasakan “lemparan batu” yang begitu terasa menyakitkan, akankah dimaknai sebagai bagian dari dinamika hidup atau sebagai kejadian yang harus dihindari?

“Life is Choice” (hidup adalah pilihan) demikian klaim seorang filsuf. Tidak mengherankan, karena kita sebenarnya dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus diputuskan, cepat atau lambat. Memaknai setiap “lemparan batu” pun merupakan suatu pilihan. Kita yang memilih mau menjadi pegawai produktif atau tidak.

Kita pula dihadapkan pada pilihan hendak menjadi pemimpin yang melayani atau dilayani. Pilihan untuk menjadi kepala keluarga atau “dikepalai” keluarga. Pilihan menjadi ibu rumah tangga atau ibu kerumahtanggaan. Hingga pilihan yang tidak kalah pentingnya adalah mau menjadi manusia yang berguna atau tidak, sebab salah satu anugerah besar yang diberikan Sang Pencipta adalah The Power of Choice (kekuatan memilih).

Selamat memilih jalan menuju pemaknaan hidup yang optimal.

Setengah isi Setengah Kosong, Semoga berguna

tags:

Related For Lemparan Batu dan Pilihan