Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Manunggaling kawula Gusti Ir.Sujamto

30 Oktober 2012 | Culture

Manunggaling kawula Gusti Ir.Sujamto. Menurut Ir. Sujamto, manunggaling kawula kalawan Gusti bukanlah suatu ajaran, tetapi suatu pengalaman yang benar-benar nyata bagi siapa saja yang pernah mengalaminya. Pengalaman ini berupa penyatuan diri dengan Yang Maha Agung. Ada pula istilah lain sebagai pengganti penyatuan, yaitu peleburan. Dalam pemikiran Jawa, selain istilah di atas juga dikenal istilah lain dengan maksud yang sama, seperti manunggaling kawula lan Gusti,pamoring kawula Gusti, jumbuhing kawula Gusti, curiga manjing warangka, warangka manjing curiga dan sebagainya.

Ini adalah sama pula dengan cognitio dei experimentalis (Thomas Aquinas), krsjurna samvada (Radhakrishman), unio mystika, pengalaman mistik dan sebagainya. Seperti halnya Tuhan tan kena kinayangapa, maka pengalaman manunggal dengan Tuhan inipun pada dasarnya tan kena kinayangapa (tak bisa di jelaskan dengan nyata tanpa mengalaminya). Pengalaman ini hanya dapat dipahami dan dihayati oleh yang mengalami saja.

Pengalaman ini bersifat tak terbatas (infinite). Karenanya tak mungkin dijelaskan dengan logika dan kata-kata kepada orang lain. Karena logika dan kata-kata adalah bersifat tak terbatas. Seperti halnya pikiran manusia yang tak terbatas, oleh karena itu setiap kali orang berusaha menjelaskan, apalagi mengajarkan kebenaran yang diperoleh dari pengalaman ini kepada orang lain, pasti akan terjadi penyimpangan terhadap kebenaran yang senyatanya.

Oleh karena itu, benarlah kata-kata sang Buddha: anaksarasya dharmasyasrutih ka desana ca ka. Untuk suatu kebenaran yang tak mungkin dijelaskan dengan kata-kata, bagaimana mungkin ditimbulkan suatu ajaran? Setiap bentuk penjelasan atau ajaran yang berasal dari pengalaman itu tak lebih hanya suatu rabaan berdasarkan tafsiran terhadap pengalaman tersebut. Itulah sebabnya mengapa dapat timbul berbagai ajaran yang berbeda dari satu pengalaman yang sama.

Timbulnya berbagai ajran yang berbeda dari satu pengalaman yang sama itu disebabkan oleh tafsiran-tafsiran yang berbeda dari pengalaman yang sama. Ini disebabkan karena masing-masing melakukan penafsiran terhadap pengalaman yang sama berdasarkan bekal konsepsi yang telah dimilikinya sebelum masing-masing memperoleh pengalaman itu.

Penganut Islam menafsirkannya berdasarkan ajaran-ajaran Islam, penganut Kristen berdasarkan ajaran Kristen, dan begitu pula dengan penganut ajaran lainnya. Kenyataan ini yang dalam pemikiran Jawa dinyatakan dengan ungkapan “ngangsu apikulan warih” yang artinya: mencari air dengan memakai air, atau “amek geni adedamar” (mencari api dengan memakai api).

Pemikiran Jawa yang murni tidak berusaha menerjemahkan pengalaman itu menjadi suatu konsepsi atau ajaran. Ini disebabkan karena penghayatan yang mendalam terhadap semangat yang terkandung dalam kata-kata Empu Tantular: “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang pada hakekatnya sama pula dengan apa yang dinyatakan dalam Rig Weda: “ekam sad vipra bahuda vadanti, kebenaran atau realita itu adalah satu tetapi orang menjelaskannya dengan berbagai cara. Inilah semangat tantularisme yang mewarnai dan mendasari corak pemikiran Jawa pada umumnya.

Pemikiran Jawa atau konsepsi kejawen tentang Tuhan dan tentang pengalaman manunggal dengan Tuhan dapat diikuti dengan jelas. Terutama dalam Serat Dewaruci, yaitu bahwa Tuhan itu tan kena kinayangapa, tak terperikan, tak dapat dilihat, tak berbentuk, tak berwarna, tak dapat dipegang, tak punya tempat tinggal, hanya terletak pada yang awas (mung dumunung mring kang awas), tetapi perlambangnya memenuhi alam semesta (mung sasmita aneng ing jagad ngebeki).

tags:

Related For Manunggaling kawula Gusti Ir.Sujamto