Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Memahami puisi Angkatan Pujangga baru

20 Mei 2014 | Sastra

Dalam setiap angkatan kita berhadapan dengan banyak penyair yang berbeda gaya, berbeda aliran, berbeda pengalaman dan latar belakang pendidikan, budaya dan sosialnya. Angkatan Pujangga Baru menampilkan nama-nama penyair seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Amir Hamzah. Sutan Takdir dengan semboyannya hidup dan berjuang, suka kepada yang bergerak, yang dinamis.

Sebaliknya ia tidak menyukai segala yang serba tenang, yang serba tenteram.Dengarlah ia berdendang dalam puisinya yang berjudul Perjuangan di bawah ini :

Perjuangan

Tenteram dan damai?
Tidak, tidak Tuhanku!
Tenteram dan damai waktu tidur di malam sepi
Tenteram dan damai berbaju putih di pulau kubur
Tetapi hidup ialah perjuangan
Perjuangan semata lautan segara
Perjuangan semata alam semesta
Hanya dalam berjuang beta merasa tenteram dan damai
Hanya dalam berjuang berkobar Engkau Tuhanku di dalam dada

Alangkah berbeda jauh dengan puisi Sanusi Pane yang penuh ketenangan dan kedamaian di bawah ini :
Alam membawa bidukku pelahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah ke mana aku tak tahu
Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-abad
Dengan damai mereka meninjau
Kehidupan bumi yang kecil amat
Aku bernyanyi dengan suara
Seperti bisikan angin di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun-alun

Bagaimana halnya dengan puisi Amir Hamzah?

Amir Hamzah yang mendapat gelar Raja Penyair Pujangga Baru menciptakan puisi yang menyanyikan cinta yang tidak sampai, tetapi di dalamnya terasa perasaan keagamaan yang tawakal, karena penderitaan jiwanya yang mendekatkannya kepada Tuhan.

Amir Hamzah menggunakan bentuk puisi Melayu dalam mencipta. Bagitu pun ia menggunakan perbandingan-perbandingan Melayu lama. Hal ini menyebabkan puisinya terasa sulit untuk dipahami. Ditambah lagi dia banyak menggunakan kata-kata Melayu yang sulit dimengerti.

Coba perhatikan dan pahami makna puisi Amir Hamzah di bawah ini :

Bersemayam sempana di jemala gembala

Juriat jelita bapaku iberahim

Keturunan intan dua cahaya

Pancaran putera berlainan bunda

Kini kami bertikai pangkai

Di antara dua, mana mutiara

Jauhari ahli lali menilai

Lengah langsung melawan abad

Aduh, kekasihku,

Padaku semua tiada berguna

Hanya satu kutunggu hasrat

Merasa dikau dekat rapat

Serasa musa di puncak tursina

(Dari : Nyanyi Sunyi)

Puisi di atas terasa membawa kita terjun ke jiwa yang mendalam. Namun karena beberapa kata yang tidak bisa kita mengerti artinya secara pasti, sulit rasanya kita memahaminya secara tepat.

Related For Memahami puisi Angkatan Pujangga baru