Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Membuat kritik sederhana puisi modern

11 Februari 2014 | Sastra

Membuat kritik sederhana puisi modern. Sebuah kritik pada hakikatnya adalah sebuah penilaian. Penilaian baik buruk atas sebuah karya. Dan penilaian harus bersifat objektif. Artinya, bila sebuah karya baik harus dikatakan baik, dan jika memang buruk katakan buruk.

Timbul pertanyaan : yang baik itu yang bagaimana? Dan yang buruk itu yang bagaimana? Untuk dapat memberikan kritik terhadap sebuah puisi perlu berbekal pengetahuan tentang teori sastra (khususnya puisi), sejarah sastra, dan biografi penyair.

Sebuah puisi mempunyai keunikan bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Apa keunikannya? Bukan pada kata-katanya. Karena kata-kata yang digunakan penyair tidak berbeda dengan kata-kata yang digunakan orang dalam karya prosa. Keunikannya antara lain terletak pada ringkas dan padatnya sebuah puisi. Sebuah puisi padat dengan isi, tetapi hemat akan kata-kata. Menggunakan kata sehemat mungkin tetapi penuh dan padat dengan isi.

Coba perhatikan bagaimana penyair Sugiharto mengungkapkan pengalaman batinnya hanya dalam sebuah bentuk puisi yang kecil. Tetapi puisi yang kecil ini sebenarnya memiliki kekayaan batin yang alam.

Bertobat

Tuhan!
Dalam siksa-Mu
Kurasakan keagungan-Mu

Penyair hendak mengungkapkan pengalaman batinnya yang sungguh-sungguh dalam. Tuhan memang Agung, Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Adakah Tuhan menjatuhkan siksaan? Siksaan bukanlah tanda hukuman, melainkan semacam peringatan. Peringatan agar manusia kembali ke jalan yang benar, bila selama ini manusia berjalan di jalan yang sesat. Dan betapa dalam keimanan penyair ini. Kalau toh Tuhan memberikan siksa padanya, maka di balik siksa itu masih akan terasa keagungan-Nya.

Demikianlah puisi kecil ini sebenarnya memiliki bobot yang besar. Itulah keunikan sebuah puisi. Dan bila kita dapat menemukan makna di balik kata-kata yang tersusun dalam puisi, alangkah kayanya kita. Kaya akan pengalaman batin.

Keunikan lain ialah bahwa puisi penuh dengan simbol. Untuk dapat mengungkapkan apa yang tersembunyi di balik sebuah puisi kita harus memahami makna simbol yang digunakan penyair.

Hanya karena disusun dalam larik-larik tertentu, dia berbeda dengan prosa. Tetapi puisi penuh dengan bahasa simbol. Puisi ini memperkaya batin kita bila kita dapat menangkap maknanya yang tersembunyi di balik-simbol-simbol itu.

Marilah kita baca bagaimana Sapardi Djoko Damono mengungkapkan kekayaan batinnya untuk diberikan kepada pembaca di bawah ini :

Di Kebun Binatang

Seorang wanita muda berdiri terpikat
Memandang ular yang melilit sebatang pohon
Sambil menjulur-julurkan lidahnya, katanya
kepada suaminya : “Alangkah indahnya kulit
ular itu untuk tas dan sepatu”
Lelaki muda itu seperti ingat sesuatu
Cepat-cepat menarik lengan istrinya meninggalkan tempat terkutuk itu.

Puisi ini tidak hanya sekedar ingin melukiskan suatu pemandangan di sebuah kebun binatang. Tidak juga sekedar berbicara tentang seorang istri yang tertarik akan keindahan warna dan motif kulit ular yang dapat dijadikan bahan pembuat tas dan sepatu.

Tidak. Bagian akhir dari puisi itu memberikan kunci kepada kita untuk masuk ke dalam pengalaman batin yang dimiliki penyair. Dengan catatan kita harus mampu menafsirkan bahasa simbol yang digunakan penyair.

//Lelaki muda itu seperti teringat sesuatu/Cepat-cepat menarik lengan istrinya/meninggalkan tempat terkutuk itu//.

Tempat terkutuk? Benar. Penyair mengingatkan kita akan kisah Adam dan Hawa sedang bercengkrama menikmati keindahan Taman Firdaus. Setan, dalam bentuk seekor ular, membisiki Hawa untuk memakan buah Kuldi, buah larangan.

Hawa terbujuk, terkena rayuan dan bisikan setan. Ia memetik dan memakan buah kuldi itu. Padahal jangankan memakannya, mendekatinya saja Adam dan Hawa dilarang Tuhan. Akhirnya Adam dan Hawa harus menanggung resiko atas perbuatannya, diusir dari Taman Firdaus.

Itulah sebabnya sang suami //Cepat-cepat menarik lengan istrinya/meninggalkan tempat terkutuk itu//. Yaitu, supaya istrinya dan kita semua tidak mengulang apa yang terjadi di Taman Firdaus dahulu.

Tidak semua puisi mengandung bobot seperti itu. Banyak pula puisi yang tidak berbicara apa-apa kepada pembaca. Banyak puisi yang tidak memberi pengalaman batin kepada pembaca. Ini kita temui pada puisi para pemula.

tags:

Related For Membuat kritik sederhana puisi modern

Recent Post

Pada hari Selasa tanggal 8…
Benign chronic bullous disease of…
Herpes gestationis is a rankling…
Dermatitis herpetiformis is an endless…

Kategori