Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Menafsir tendens cerpen Indonesia tahun 50an

30 Januari 2014 | Sastra

Menafsir tendens cerpen Indonesia tahun 50an. Dekade 50-an dianggap sebagai periode penuh kelesuan dalam penerbitan. Situasi perekonomian yang sulit menyebabkan kurangnya penerbitan karya sastra berupa buku. Sebagai akibatnya maka sastra hadir dalam berbagai majalah. Oleh sebab itu ada yang memberi julukan pada periode ini sebagai sastra majalah.

Kelesuan dalam penerbitan karya sastra ini antara lain disebabkan oleh : pertama pihak penerbit enggan menerbitkan buku sastra karena takut merugi. Kedua adanya perselisihan antargolongan sastrawan sebagai akibat politik daripada masalah mencipta.

Nugroho Notosusanto merumuskan sastra periode 50an sebagai berikut :
“Sastrawan-sastrawan yang tampil ke muka dalam periode ’50 tidak lagi berat sebelah kepada Belanda atau Eropa Barat. Jangkauan orientasinya benar-benar meliputi seluruh dunia. Memang sebagian besar di antara mereka tidak lagi menguasai bahasa Belanda.

Media utama mereka untuk mengenali karya-karya sastra luar negeri adalah bahasa Inggris. Dan mereka mulai berkembang tatkala negeri ini mulai dibanjiri buku-buku paperbacks yang relatif murah dari Amerika dan buku-buku kulit tebal yang lebih murah lagi terbitan Pustaka Bahasa Asing di Moskwa dan Peking.

Tetapi, mereka tidak hanya melihat ke luar negeri. Gairah untuk belajar dari para sastrawan terkemuka di luar tanah airnya diimbangi dengan penghargaan mereka yang wajar kepada sastrawan-sastrawan Indonesia sendiri, yang mereka jadikan guru-guru mereka yang pertama”.

Periode ini memunculkan penyair antara lain : Hariyadi S. Hartowardoyo, Toto Sudarto Bakhtiar, Muhammad Ali, A Nuraini. Sedangkan penulis prosa : Riyono Pratikto, Abas Kartadinata, Darius Marpaung, Mochtar Lubis, dan lain-lain.

Cerita pendek hidup subur pada periode ini seperti halnya puisi, karena terbitnya berbagai majalah. Cerpen mendapatkan wadahnya dalam majalah. Di antara cerita-cerita pendek yang telah dibukukan dapat disebut antara lain : Lingkaran-lingkaran Retak (Mohamad Balfas), Kata Hati dan Perbuatan (Trisno Sumarjo), Api dan Beberapa Cerita Pendek Lain (Riyono Pratikto), Perempuan (Mokhtar Lubis) dan lain-lain.

Cerita-cerita pendek periode ini mengungkapkan berbagai tema dan mempunyai berbagai tendens. Ada yang mengungkap hakikat hidup di balik yang serba nyata, ada yang berupa penilaian dan kritik tajam yang menghendaki perbaikan terhadap keadaan masyarakat yang penuh kepindangan.

Penghidupan yang sukar, urbanisasi yang membawa banyak masalah, kehidupan kota besar,penghidupan rakyat yang penuh penderitaan, semuanya menjadi bahan garapan para pengarang cerita pendek (cerpen).

Dalam cerita pendek Robohnya Surau Kami pengarang A.A. Navis menunjukkan suatu sikap menghadapi fanatisme yang berurat berakar dalam masyarakat, dan lebih jauh lagi A.A. Navis memberikan kritiknya.

Nugroho Notosusanto melalui cerita-cerita pendeknya melukiskan pengorbanan manusia Indonesia masa kini untuk memperoleh kehidupan masa depan yang lebih baik. Sedangkan Trisno Yuwono banyak mengungkapkan kehidupan kalangan tentara dan keadaan waktu revolusi.

tags:

Related For Menafsir tendens cerpen Indonesia tahun 50an

Recent Post

Pada hari Selasa tanggal 8…
Benign chronic bullous disease of…
Herpes gestationis is a rankling…
Dermatitis herpetiformis is an endless…

Kategori