Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Mengambil resiko berarti berani

26 Juni 2011 | Intelegensi

Mengambil resiko berarti berani. Hidup ini akan terasa lebih hidup dan lebih bermakan bukan karena hal-hal yang besar, yang selalu kelihatan mewah, kelihatan gagah, ataupun selalu kelihatan populer di mata umum, melainkan dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan jiwa yang besar.

Cahaya kehidupan abadi bukan tampak dari kemilau harta yang dimiliki, bukan pula dari indahnya tahta kedudukan yang dipunyai seseorang atau deretan gelar yang disandang. Cahaya kehidupan abadi justru dimulai dari lentera kecil yang ada dalam diri yang menyala dalam ketulusan memberi pertolongan pada orang lain dalam segala kekurangan dan kecukupannya.

Lentera kehidupan tidak berarti selalu memberi kehidupan kepada orang-orang yang baik dengan kita. Memberi pertolongan kepada orang yang yang sepaham, sealiran dan sependapat dengan kita adalah hal biasa. Namun memberi pertolongan dengan dasar cinta kasih kepada orang-orang yang justru membenci kita, yang berbeda dan tidak sepaham dengan kita merupakan nilai tertinggi dari lentera kehidupan tersebut.

Seorang sahabat senior yang sangat bijak dan rendah hati, sungguhpun memiliki jabatan yang tinggi, pernah bertutur, “Harta saya yang abadi itu adalah yang saya berikan kepada orang lain”. Pernyataan yang menunjukkan implementasi nilai-nilai spiritual yang tinggi itu, memberikan inspirasi dan dorongan bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah titipan dan sebagian milik orang lain. Inspirasi yang memperkokoh keyakinan bahwa semua yang kita miliki saat ini tidaklah abadi. Hidup semata-mata adalah menjadi saluran berkali-kali bagi orang lain.

Ketika lentera menyala bukan berarti tidak ada resiko, paling tidak resiko tertiup angin dan padam. Resiko terberat yang dirasakan sesorang ketika memberi pertolongan bagi orang lain, bukanlah semata-mata akibatnya harta yang berkurang atau tenaga dan waktu yang tersita, melainkan mempertaruhkan harga diri dan gengsi. Menyalakan lentera kehidupan berarti rela turun dan rendah hati untuk sama-sama sederajat dengan orang yang ditolong untuk kemudian secara bersama-sama membawanya terbang tinggi.

Hambatan utama dalam menyalakan lentera kehidupan justru datang dari dalam diri-sendiri yang tidak mau kelur memperhatikan dan menolong orang lain. DR. Lyndon pernah menyatakan bahwa orang yang menaklukkan orang lain adalah orang yang kuat, sedangkan orang yang menaklukkan dirinya adalah orang yang berkekuatan dahsyat.

Berbicara mengenai resiko, akan sendi-sendi kehidupan kita yang berjalan tanpa resiko. Tertawa berarti mengambil resiko kelihatan tolol. Menangis berarti mengambil resiko kelihatan sentimental. Mengulurkan tangan kepada orang lain berarti mengambil resiko menunjukkan diri sejati kita.

Memberitahukan ide-ide dan impian kita didepan orang berarti mengambil resiko tidak dikasihi. Mengasihi berarti resiko tidak dikasihi. Hidup berarti mengambil resiko mati. Berharap berarti mengambil resiko putus asa. Mencoba berarti mengambil resiko gagal.

Keberanian mengambil resiko moderat untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain, perusahaan dan masyarakat merupakan awal yang baik untuk memulai hidup baru dengan menyalakan lentera kehidupan. Tidak dapat dipungkiri, begitu komitmen ini mulai dibangun, maka pada saat yang bersamaan pula rasa takut mulai datang untuk menghambat laju komitmen tersebut. Berani berarti melawan rasa takut. Lebih baik mengambil resiko sekarang daripada selalu hidup dalam ketrakutan.

Kehidupan yang paling menyedihkan adalah ketidakberanian mengambil resiko sekecil apapun (safety player). Orang yang tidak mau mengambil resiko berarti dia tidak dapat meraih apapun, tidak memiliki apapun, tidak merasakan apapun dan akhirnya tidak menjadi siapa-siapa. Nyalakanlah lentera kehidupanmu dnegan resiko apapun, besok mungkin sudah terlambat dan padam.

tags:

Related For Mengambil resiko berarti berani