Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Mengapa suami enggan memakai alat KB?

4 April 2013 | Health
Mengapa suami enggan memakai alat KB? Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat yang menangani masalah kependudukan, pernah memuji Indonesia. Ini karena negara ini dinilai berhasil dalam proses Keluarga Berencana. “Indonesia patut menjadi teladan di bidang program KB bagi negara-negara Asia-Pasifik lainnya”, katanya.
Namun, jika mau jujur, keberhasilan program KB di Indonesia sebetulnya belum sempurna. Sebab, yang menjadi akseptor KB ternyata hampir semuanya kaum wanita atau istri saja. Sejak diperkenalkan pada akhir tahun 1960-an di Indonesia, obyek utama program pembatasan kelahiran itu adalah kaum istri.
BKKBN (Badan Koordinasi KB Nasional) tampaknya juga lebih bersemangat memburu kaum istri. Mengapa? apakah karena yang memimpin BKKBN selalu kaum pria? Dra. Sawitri, ketua Jurusan Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Unpad (Univeritas Padjadjaran) Bandung, pernah menepis hal itu kepada salah satu majalah negeri ini.
Menurut Sawitri, ini berkaitan dengan masalah Sosio-psikologis yang terkait erat dengan kultur Timur. Secara universal, kaum pria dilatih bersikap terbuka dan dominan, sanggup menguasai emosi pada setiap situasi.
Karena itu, penyertaan pria sebagai akseptor KB tak sesederhana yag dibayangkan. Sebab, penggunaan alat KB bagi pria akan menghambat hasrat dominasinya sebagai insan potensial dalam membuat wanita hamil. Hal ini identik dengan penurunan derajat rasa kejantanannya.
Perasaan akan adanya proses penurunan derajat kejantanan ini akan mewujudkan dalam aneka keluhan psikogenik pada perilaku seksualnya. Menurut lulusan Fakultas Psikologi Unpad tersebut, penilaian personal tentang diri-sendiri berhubungan erat dengan sikap pria terhadap identitas seksualnya.
Identitas seksual yang kurang mantab, karena kepribadian yang juga kurang mantab, membuat ego pria goyah dan labil. Padahal, kemampuan menghamili pasangannya merupakan ciri kejantanan yang dapat memperkuat ego pria tersebut.
Sikap mengabaikan penggunaan alat kontrasepsi, nyata terlihat pada pria yang justru berusaha meningkatkan harga dirinya melalui kegiatan seksual. Kaum pria merasa takut bahwa pemakaian alat kontrasepsi akan menurunkan hasrat dan respos seksualnya. Jadi dapat disimpulkan, bahwa pria itu mengalami konflik dalam identitas seksual, sehingga peran sertanya dalam KB tidak mantab.
Selain faktor-faktor kendala di atas, faktor agama/kepercayaan juga turut menghambat kaum pria menjadi akseptor KB. Tuntutan reigius yang masih bersikap oposisi terhadap KB, baik secara ideologis maupun praktis, membawa rasa berdosa, bersalah yang mendalam, sehingga pemakaian metode kontrasepsi manapun tidak akan memberikan efek psikologis yang positif.
Beliau juga menambahkan, ada kecenderungan karakteristik kepribadian yang berpengaruh terhadap pemilihan metoda KB, andaikata pria terpaksa ikut KB. Menurutnya, para suami yang ikut memakai kontrasepsi adalah pria yang berpribadi matang, tak tergantung, menerima apa adanya, tenteram, ambisius, penuh percaya diri dan cerdas.
Pada umumnya suami seperti ini mampu membina komunikasi yang baik dengan lingkungan, dan biasanya mampu mencapai penyesuaian seksual yang optimal dengan istrinya. Sukses dalam kehidupan, bisnis dan dalam perkawinan berkorelasi baik dengan sukses dalam pemakaian alat kontrasepsi.

Related For Mengapa suami enggan memakai alat KB?