Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Novel revolusi 1945 karya sastrawan Indonesia

24 Januari 2014 | Sastra

Novel revolusi 1945 karya sastrawan Indonesia. Revolusi 1945 merupakan bagian kehidupan dan sejarah bangsa Indonesia yang pasti tak akan terlupakan. Revolusi 45 memiliki arti yang sangat dalam bagi bangsa Indonesia. Revolusi inilah yang melahirkan revolusi Indonesia. Dan melalui revolusi ini pula bangsa Indonesia mempertahankan dan merebut kembali kemerdekaannya.

Selain itu, peristiwa ini juga mempersatukan jiwa bangsa nusantara ini. Menghadapi musuh yang sama yaitu penjajah, bangsa ini menyatukan diri, mengesampingkan berbagai hal yang dapat membawa perpecahan. Persatuanlah yang mengantarkan bangsa Indonesia keluar sebagai pemenang dalam revolusi 1945.

Akan tetapi revolusi adalah perang. Dan perang tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari ekses pembunuhan, perampokan, penculikan, perkosaan, penderitaan, pengungsian dan seribu satu macam ekses yang lain.

Peristiwa bersejarah ini tak mungkin terlewatkan begitu saja. Banyak sastrawan ingin mengungkapkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang di rasa, yang diketahui dan apa yang mereka alami saat itu.

Mereka ingin mengabadikan peristiwa besar yang menyangkut hajat bangsanya. Dan lebih dari itu mereka ingin dapat menjadi saksi bagi generasi sesudahnya, betapa pahit, getirnya hidup di alam revolusi.

Inilah latar belakang sosial munculnya karya sastra yang bertemakan revolusi. Apakah dalam bentuk puisi, cerita pendek, novel, drama dan sebagainya. Marilah kita ambil contoh.

Nasyah Jamin dalam cerita pendek “Sekelumit Nyanyian Sunda” mengungkapkan persoalan : berhakkah manusia membunuh manusia kendati demi tanah air? Kepahlawanan dan keberanian dalam pertempuran sebenarnya tumbuh karena diri sendiri takut menghadapi maut. Kalau tidak membunuh, maka kita yang akan dibunuh.

Tokoh cerita ini Amran yang mengidap penyakit malaria. Dalam revolusi ia mendapat tugas untuk menyampaikan surat kepada pasukan yang berada di tepi telaga Leles, Priangan. Selama dalam perjalanan Amran mendapat serangan malaria. Kawannya yang bernama Enda menunjukkan kesetia kawanannya dengan mencarikan rumah untuk Amran. Ia ditolong oleh seorang gadis, yang juga menolong seorang serdadu Nica yang merupakan musuh.

Banyak masalah kemanusiaan dikemukakan dan digarap secara mengasyikkan. Bukan itu saja, masalah kemanusiaan yang paling hakiki dipertanyakan : membunuh manusia, walaupun dalam perang apakah tidak berarti melenyapkan hak hidup manusia lain? Menolong musuh dalam keadaan luka parah apakah dapat dibenarkan? Apakah tidak akan dianggap sebagai tindak pengkhianatan? Atau bahkan tidak akan dituduh sebagai mata-mata?

Nugroho Notosusanto dalam “Hujan Kepagian” melukiskan betapa banyak pemuda yang usianya masih anak-anak direnggut dari bangku sekolah, direnggut dari pelukan ayah bundanya karena pertempuran dan peperangan, karena revolusi.

Pada usia dewasa mereka sudah harus berhadapan dengan perang. Perang dengan segala eksesnya. Tetapi mereka memang masih kanak-kanak. Kalau mereka menghadapi kesulitan mereka merintih menyebut nama ayah dan ibunya. Mereka adalah bocah-bocah yang harus memikul tanggung jawab manusia dewasa.

Perang tidak mengenal usia. Revolusi tidak mengenal manusia, yang ada hanya musuh dan kawan. Membunuh atau dibunuh. Bagitulah, kita mendapatkan gambaran yang lengkap tentang revolusi melalui cerita pendek maupun novel.

Novel “Tak ada Esok” karangan Mokhtar Lubis melukiskan manusia-manusia dalam perang. Manusia yang bersangkutan dengan perang, manusia ditimpa perang. Novel ini melukiskan semacam riwayat hidup Johan sebagai nama tokohnya, dari semnjak zaman Belanda sebelum perang, hingga pada akhir perjuangan kemerdekaan.

Dia gugur. Baginya tak ada hari esok, tak ada hari depan yang cerah. Keadaan ini tidak hanya dialami atau lebih tepat hanya dimiliki oleh Johan saja. Juga manusia-manusia lain. Orang-orang yang hidup hari ini, merenggutkan diri dari masa lalu, tidak empunya hari esok.

Adakah anda masih memiliki rasa ingin menang sendiri? Masa kemerdekaan seperti sekarang merupakan tugas kita untuk bergotong-royong membangun negeri tercinta ini, bukannya untuk saling berlomba untuk menguasai, memaksakan kehendak dan menonjolkan suatu golongan tertentu di mata seluruh umat manusia.

Lihatlah negeri di luar sana yang tiap hari berperang. Adakah mereka bisa tidur dan makan dengan nyaman? Adakah anak-anak mereka bisa bersekolah untuk bekal hari depannya?

Persatuan dan kesatuan adalah senjata ampuh kita untuk maju!

tags:

Related For Novel revolusi 1945 karya sastrawan Indonesia