Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Penyakit akibat cuaca saat naik haji di tanah suci

10 Juli 2012 | Health

Penyakit akibat cuaca saat naik haji di tanah suci. Musim haji beberapa bulan lagi tiba, apakah anda termasuk calon haji dari Indonesia? Ada beberapa pengalaman seorang teman di tanah suci yang mungkin bisa jadikan wacana, agar ibadah anda sukses. Tiba-tiba salah seorang teman mengalami pendarahan dari hidungnya (mimisan).

Dengan sigap seorang teman lainnya menyemprot muka dan hidungnya dengan air. Kejadian tersebut menunjukkan jaringan selaput lendir sekat hidung orang tersebut begitu kering sehingga rapuh dan pecahlah ujung-ujung kapiler darah di sana.

Mengapa begitu? Ini diakibatkan tersedotnya cairan tubuh oleh udara yang kering dan panas. Agar ibadah anda tidak terhambat, ada baiknya mengantisipasi kemungkinan timbulnya penyakit-penyakit yang tak terduga selama anda berada di tanah suci.

Heat Stroke

Heat Stroke bukan sejenis penyakit akibat bakteri, virus atau jasad renik lainnya, melainkan akaibat sengatan panas. Sengatan ini dapat menyerang mendadak dan begitu mudahnya membunuh para jamaah haji.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Jumlah uap air di udara (kelembapan) memegang peranan penting dalam kasus ini. Di Indonesia, kelembapan rata-rata adalah sekitar 80% sementara di Arab Saudi 40%. Ini berarti udara di sana kering.

Istilah kelembapan diartikan sebagai banyaknya uap air (moisture) yang dikandung udara/atmosfir. Hal ini dapat di ukur dengan alat higrometer. Lalu apa pengaruh kondisi semacam ini terhadap tubuh manusia? Perlu diketahui bahwa bahwa sekitar 60% tubuh manusia terdiri dari air.

Manusia bisa kehilangan setengah protein, semua persediaan hidrat karbon dan lemak dalam tubuh, tetapi kekurangan air 10% saja sudah dapat mengganggu jiwa. Kekurangan 20% air dalam tubuh berarti berhadapan dengan maut.

Fungsi keringat

Bila berada di tempat yang panas, manusia akan mengeluarkan keringat sebagai reaksi sehat dari tubuh. Peristiwa fisiologis (kelakuan tubuh) ini bertujuan untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap 37 derajat celcius. Bila anda berada di tempat yang panas, maka keluarnya keringat adalah agar temperatur tubuh tidak naik.

Penguapan perlu panas, dan panas yang dipakai oleh penguapan keringat adalah panas dari matahari yang menimpa tubuh. Dengan peristiwa ini, suhu tubuh akan tetap tinggi. Kondisi ini didukung oleh kelembapan air di udara yang cukup tinggi, misalnya 80% menyebabkan tidak terjadi suatu ketimpangan antara menguapnya keringat secara pelan dan seimbang dengan kondisi kelembapan udara.

Hal ini berbeda pada kondisi kelembapan udara yang amat kering. Bila anda berada di terik matahari dengan kondisi kelembapan udara kering seperti di Arab Saudi, keringat tidak sempat menitik karena begitu cepatnya menguap. Bahkan cairan tubuh seakan ikut tersedot oleh kondisi udara kering tersebut.

Bila penguapan cairan tubuh di udara terbuka kering dan terik matahari tersebut tidak diimbangi masuknya air dari luar (melalui minuman), maka niscaya tubuh akan banyak kekurangan air dan bisa terjadi dehidrasi.

Sebagai akibatnya, sama saja dengan dehidrasi akibat muntaber. Orang bisa pingsan untuk kemudian meninggal dalam waktu singkat bila tidak segera mendapatkan pertolongan. Keadaan seperti itulah yang disebut “Head Stroke”.

Tanda-tanda jamaah haji yang terkena Head Stroke:
  1. Kulit kemerah-merahan, kering dan tidak berkeringat.
  2. Suhu badan tinggi.
  3. Mengigau dan merasa melihat yang aneh-aneh.
  4. Bisa disusul kejang-kejang, dan bisa menjadi pingsan bahkan meninggal.

Oleh karena itu, yang sangat penting diperhatikan untuk menghindari stroke ini adalah:

  1. Jangan berada di terik matahari secara langsung.
  2. Bila harus keluar saat terik matahari, gunakan payung.
  3. Selalulah membawa semprotan air dan disemprotkan ke tubuh dan muka sesering mungkin sambil sering pula minum. Semprotan air dapat diisi dengan air zam-zam untuk diminum dan membasahi kulit.
  4. Setiap hari harus minum paling sedikit 15 gelas (sekitar 3 liter) air tanpa menunggu haus.
  5. Jangan menahan buang hajat besar atau kecil.
  6. Harus selalu menjaga kesehatan tubuh agar tetap segar dan tidak terlalu capek.
  7. Pakailah pakaian berwarna putih atau terang sedapat mungkin dan jangan terlalu tebal serta yang longgar.
  8. Sesering mungkin makan buah segar yang dijual di dekat asrama haji di Madinah maupun Mekah.

Cara melakukan pertolongan

Bila ada jemaah haji yang terkena stroke, segera bawa korban ke tempat yang teduh. Longgarkan atau lepaskan pakaiannya agar cepat dingin. Basahi tubuhnya dengan kain atau handuk atau semprotlah dengan air dingin. Kipasilah tubuhnya dan segera panggil dokter. Bila telah sadar berilah minuman dingin sebanyak-banyaknya.

Bila jamaah haji di suatu perjalanan merasa letih apalagi disertai mual, pusing bahkan berkunang-kunang, segeralah berhenti mencari tempat teduh. Istirahatkan dia, beri minum dan semprot tubuhnya dengan air sambil dikipas-kipas sampai gejala menghilang.

Bahaya lain yang perlu diwaspadai

Kemungkinan bahaya lain di tanah suci berkaitan dengan kesehatan adalah meningitis (radang selaput otak). Meningistis adalah suatu peradangan selaput yang menyelimuti otak (meninges) dan bagian yang bernama spinal cord. Sebenarnya, penyakit ini lazim menyerang anak-anak.

Infeksinya disebabkan virus atau bakteri. Mula-mula karena adanya infeksi lokal di telinga, tonsil, atau daerah sinus, lalu menyebar melalui aliran darah. Gejalanya mula-mula demam tinggi, menggigil, kepala sangat sakit, lalu muntah-muntah.

Kemudian bisa diikuti rasa kaku pada leher dan punggung, bahkan kepala bisa tertarik ke belakang bila telah parah. Penyakit ini ternyata juga merupakan ancaman yang serius bagi jamaah haji, dengan penyebab umum adalah bakteri meningococcal yang menyerang selaput otak.

Penyakit ini cepat menjalar di daerah panas maupun dingin dengan kelembapan udara yang rendah (udara kering). Dalam kondisi seperti ini bakteri tersebut mempunyai keganasan yang tinggi. Lebih-lebih didukung dengan kondisi berdesak-desakannya orang-orang yang letih.

Seperti telah diketahui, daya tahan orang letih adalah lemah. Dengan demikian, bila ada bakteri bersemayam di salah satu jamaah, maka akan sangat mudah menular pada jamaah yang lain.

Tanda-tanda serangan meningitis bagi para jemaah haji ialah demam/panas, perut mual, sering muntah, bintik-bintik merah pada kulit, ketahanan fisik dan kesadaran menurun, mengigau, dan kuduk kaku. Cara penularannya adalah kontak langsung melalui percikan ludah, ingus dan debu.

Cara menghindarinya

Jaga kebersihan lingkungan dan kebersihan pribadi. Hindarkan diri dari hal-hal yang dapat menularkan penyakit tersebut. Sebaiknya pakailah masker dan jangan meludah dan membuang ingus sembarangan. Bila ada jamaah haji yang diduga terkena serangan meningitis, maka segeralah iaisolir di tempat tersendiri dan cepar memanggil dokter untuk kemudian dibawa ke rumah sakit.

Semoga dengan ini dapat membantu anda menghindari segala hal yang tidak diinginkan saat menjalankan ibadah haji di tanah suci. Semoga tak ada aral melintang, dan pulang kembali ke tanah air dengan hati lega.
tags:

Related For Penyakit akibat cuaca saat naik haji di tanah suci