Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Peran refaksasi dalam memanfaatkan ITB

18 September 2014 | Intelegensi

Peran refaksasi dalam memanfaatkan ITB. Relaksasi adalah suatu aktivitas manusia dalam rangka mencapai suatu kondisi yang stabil baik fisik, mental, pikiran maupun emosi. Sebutan yang lebih mudah dipahami adalah meditasi. Dalam Islam lebih dikenal dengan istilah dzikrullah. Relaksasi memegang peranan yang sangat penting dalam upaya memberdayakan kemampuan ITB. Tanpa relaksasi rasanya sulit sekali seseorang akan berhasil mengaktifkan kerja ITB. Mengapa demikian?

Kekuatan bawah sadar (ITB) baru bisa diaktifkan bila kita berada dalam keadaan status alpha. Saat kita menulis sesuatu sambil mendengarkan musik, kemudian bila ada kendaraan berlalu di depan rumah, kita mampu mendengarnya, itu pertanda kita berada dalam kondisi beta.

Dalam kondisi ini kita bisa memikirkan dua atau lebih hal secara sekaligus. Saat kita menulis kita berpikir sesuatu yang akan ditulis, sambil menikmati musik (mendengar), dan sadar ada mobil yang lewat. Setidaknya ada 3 hal yang bisa diingat oleh pikiran kita.

Saat seseorang menjalankan pesawat terbang super modern, mungkin saja pikirannya harus memonitor 10-20 panel sekaligus. Belum lagi kondisi badannya, apakah sakit kepala, sakit perut atau tidak, posisi duduk cukup nyaman atau tidak dan seterusnya. Semakin banyak yang dipikirkan otak secara simultan dalam waktu yang semakin lama, akan semakin meningkatkan ketegangan (stress) yang ada. Dalam kondisi demikian, suara ITB sulit sekali tertangkap. Suara ITB kalah prioritas dibanding panel-panel kontrol tersebut.

Cara refaksasi dalam memanfaatkan ITB

Masih ingat bukan, pikiran sadar bekerja karena ada informasi masuk yang berasal dari panca indra, terutama indra penglihatan dan pendengaran. Suara ITB sendiri dapat terdengar bila pikiran sadar dinonaktifkan. Ini dapat dilakukan bila kita menonaktifkan kerja panca indra. Mata ditutup, telinga disumbat, kerja pikiran dan perasaan dihentikan bila mungkin.

Ini adalah cara praktis memasuki kondisi alpha. Cara paling efektif menangkap suara ITB adalah kalau kita dapat memasuki kondisi alpha. Dalam kondisi alpha hanya ada satu hal yang dapat dikerjakan oleh pikiran sadar.

Kalau kita menyumbat pikiran sadar dan menunggu jawaban ITB atas keinginan yang baru saja kita sampaikan, maka satu-satunya informasi yang berada di pikiran sadar adalah yang diberikan oleh ITB. Seperti disebutkan di atas, kondisi alpha dapat diperoleh bila kita mengistirahatkan semua panca indra, pikiran dan perasaan kita.

Bila mungkin organ-organ kita yang lain. Oleh sebab itu saat memasuki kondisi alpha sangat dianjurkan kita berada di ruangan yang sejuk, remang-remang, sangat dianjurkan malam hari agar diperoleh suasana tenang dan hening. Semua ini dilakukan agar konsentrasi kita tidak terganggu, misal oleh suara bising, cahaya yang masuk atau oleh bau-bauan yang tidak sedap.

Perut yang kosong bertujuan mengistirahatkan kerja organ-organ pencernaan makanan. Relaksasi dimulai dengan menutup kedua mata kita seperti orang tidur. Saat relaksasi kita diperintahkan mengabaikan semua lintasan pikiran yang masuk (jangan dilawan ataupun diikuti hal-hal yang tiba-tiba memasuki pikiran kita). Kitapun diperintahkan untuk mengambil posisi sesantai mungkin. Bila muncul rasa gatal dibagian tangan misalnya kita dibolehkan menggaruk secara perlahan. Bila rasa gatal tidak digaruk dikhawatirkan akan rnemancing pikiran memikirkannya.

Hal yang sama bila kita ingin bersin dan batuk, jangan ditahan. Lakukan sepelan mungkin. Saat melakukan relaksasi kita diminta untuk mengucapkan kata-kata ‘rilis’* sepelan mungkin, selembut mungkin seolah-olah kita berbisik kepada seorang bayi. Itupun dilakukan hanya dalam hari. Katakan kata-kata ‘rilis’* tanpa bersuara. Ucapkan kata tersebut setiap 15-20 detik sekali. Angka 15-20 bukanlah harga mati, sekedar perkiraan saja.

Melenceng pun tidak mengapa. Kitapun diminta untuk menghindari imajinasi apapun yang muncul dalam pikiran agar konsentrasi kita tidak terganggu. Pendek kata, semua hal dilakukan agar kondisi hening terpenuhi. Apabila kondisi hening (alpha) ini tercapai, maka keinginan yang akan kita ajukan (disimpan pikiran sadar) akan menjadi satu-satunya informasi yang sampai ke tangan ITB.

*Rilis adalah semacam kata yang ditujukan untuk melepaskan ketegangan-ketegangan, juga dimaksudkan untuk memusatkan perhatian kita pada satu titik. Kata ini bisa juga diganti dengan kata-kata seperti; Allahu Akbar, Alhamdulillah, Subhanallah, dan sebagainya.

Setelah menerima permintaan ini ITB akan mengolah dan jawaban akan diberikan kepada pikiran sadar, bisa diberikan segera bisa juga setelah beberapa lama kemudian. Selama proses relaksasi berlangsung terjadilah apa yang disebut proses pelepasan ketegangan. Gelembung-gelembung udara serasa keluar dari kepala kita.

Gejala setelah Peran refaksasi dalam memanfaatkan ITB

Gejala yang muncul pada tiap, orang tidak sama. Umumnya orang merasa sangat mengantuk, muncul rasa gatal pada bagian-bagian tertentu pada tubuh, ada keinginan untuk bersin, batuk, atau pusing walau saat itu tidak sedang terkena influensa. Pusingpun ada yang berat ada pula yang ringan.

Semua itu bersifat sementara, akhirnya akan hilang dengan sendirinya. Usai relaksasi badan biasanya menjadi ringan, karena sebagian stress lepas dari diri kita. Ini proses pelepasan ketegangan yang paling efektif. Saat seseorang berada jauh dari ketegangan, keinginan-keinginannya mudah didengar ITB dan direalisasikan.

Tidaklah terlalu mengherankan bila Islam sangat menganjurkan dzikrullah agar diperoleh ketenangan. Ketenangan rnernbuahkan keyakinan bahwa do’a kita akan terkabul. Hanya dengan ingat kepada Allah (dzikrullah) hati akan menjadi tenang. (QS :13;28) Relaksasi diakhiri dengan membuka mata secara perlahan-lahan, agar tidak muncul reaksi sakit kepala.

tags: ,

Related For Peran refaksasi dalam memanfaatkan ITB