Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Perkembangan sastra Indonesia zaman Jepang

21 Januari 2014 | Sastra

Perkembangan sastra Indonesia zaman Jepang. Pendudukan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama, hanya 3,5 tahun. Waktu yang singkat ini kiranya tidak membawa pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Indonesia. Namun, pendudukan Jepang yang singkat ini merupakan masa-masa yang penuh perubahan.

Bahasa Belanda dilarang digunakan. Akibatnya bahasa Indonesia harus menggantikan kedudukan bahasa Belanda dalam berbagai lapangan kehidupan bangsa. Pengambilalihan ini terasa sangat dipaksakan, sehingga secara kualitatif pemakaian bahasa Indonesia pada zaman itu sangat tidak menguntungkan.

Sebenarnya, Jepang ingin memaksakan penggunaan bahasa Jepang sebagai pengganti bahasa Belanda. Tetapi tentu saja hal ini tidak mungkin dapat dilaksanakan. Siapa yang dapat berbahasa Jepang kecuali mereka?

Dalam hubungannya dengan perkembangan sastra, masa ini walaupun hanya singkat tetapi memiliki pengaruh yang besar. Kehebatan tentara Jepang memenangkan perang dengan Belanda membawa kekaguman pemuda Indonesia, termasuk para sastrawan mudanya. Sehingga banyak kita jumpai sajak-sajak yang berisi sorak kemenangan, di samping tentu saja yang meratapi kekalahan.

Menggeloranya semangat perjuangan dan kecintaan terhadap tanah air menjadi ide yang subur untuk dituangkan ke dalam karya sastra. Namun, ketatnya sensor yang dilakukan oleh pemerintah Jepang kala itu melalui badan yang dinamakan Pusat Kebudayaan membuat para sastrawan sangat berhati-hati.

Banyak diantara mereka menunda mengungkapkan ide-idenya. Atau yang ingin juga mengungkapkan, mereka mengungkapkannya melalui bahasa simbol, menggunakan perlambang.

Pada periode ini kita dapat menyebutkan beberapa nama sastrawan jaman itu, antara lain : Usmar Ismail, Rosihan Anwar, Amal Hamzah,, Idrus, Maria Amin, dan tentu saja Khairil Anwar.

Rosihan Anwar menghasilkan beberapa karangan antara lain cerita pendek berjudul “Radio Masyarakat”, dan sajak berjudul “Manusia Baru”.

Maria Amin banyak mengarang sajak yang bersifat simbolik, untuk menghindari sensor Jepang. Kapal Udara adalah salah satu contoh sajaknya yang bersifat simbolik. Begitu pula cerita pendeknya berjudul “Dengar Keluhan Pohon Mangga”.

tags:

Related For Perkembangan sastra Indonesia zaman Jepang