Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Sabar Itu Tak Ada Batasnya (bukan sebaliknya)

6 Mei 2011 | Intelegensi

Sabar Itu Tak Ada Batasnya. Sabar sabar sabaaaaarrrr…. Kata itulah yang sering terucap dari seseorang yang berusaha menahan jengkelnya. Kejengkelan seseorang bisa berujung emosi. Bila emosi tak terluapkan akan menimbulkan tekanan jiwa yang akan menimbulkan stres, bila terluapkan akan menimbulkan efek negatif terhadap lingkungannya, baik benda mati maupun benda hidup.Jika dia sedang memegang piring akan dilemparnya, jika dia bersama orang yang dia benci bisa saja bogem melayang ke muka orang tersebut.

Begitu besar efek negatif yng ditimbulkan emosi manusia.  Sebenarnya secara naluri kita tahu dan sadar akan itu, tetapi mengapa kita selalu melakukannya? Hemmm… manusia memang selalu dan selalu begitu, tahu kalau itu salah, itu melanggar, masih saja nekad melakukannya. Tak ubahnya seperti anak kecil “semakin dilarang semakin ia berontak”

Lihatlah orang-orang di sekitar kita, banyak sekali keributan yang dilakukan manusia hanya dengan dalih “Kesabaran itu ada batasnya”. Kalimat yang memang sulit untuk disangkal.Benarkah kesabaran itu ada batasnya?

Jika pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, dengan tegas saya jawab SALAH!! Kesabaran itu tak terbatas, manusialah (kita sendiri) yang telah membatasinya. Coba sedikit anda renungkan. Sebagai contoh, jika kita dihina, dicerca atau mungkin malah dihajar habis – habisan oleh seseorang, maka ada dua kemungkinan reaksi yang timbul dari diri kita.

Pertama kita akan marah dan membalas semua hinaan maupun cercaan tersebut,  Kedua kita diam bahkan mungkin kita pergi begitu saja.

1.Marah dan membalas berarti kita telah membatasi kesabaran kita sendiri.

Tak tahan mendengar segala hinaan dan cercaan yang ditujukan kepada kita akan mendorong pasti dengan serta merta muncullah ego manusia yang tak mau direndahkan. Disitulah manusia akan membatasi emosinya.

2.Diam dan pergi berarti kita tak membatasi kesabaran kita.

Hinaan maupun cercaan akan terdengar biasa jika kita mampu membawa kesabaran. “Siapa yang tahan kalau dihina dicerca yang kesemuanya menghina dan merendahkan martabat diri kita?”

He heee… Mengapa kita harus marah? Mengapa  kita harus membalasnya? Bukankan kita tak membalasnya pun tak membayar? Bukankah seberapapun dan sampai kapanpun kita bersabar tak ditarik beaya tambahan?

Yang Kuasa tidak pernah membatasi apa yang telah dikaruniakan-Nya kepada umatnya, tergantung bagaimana umatnya menggunakan anugerah itu dengan sebaik – baiknya.

Manusia sendirilah yang telah mengklaim bahwa kesabaran itu ada batasnya. Setuju atau tidak setuju saya akan memandang anda dengan tersenyum. Andalah yang paling berhak terhadap terhadapa diri anda sendiri. Tak ada waktu bagi saya untuk membuat anda harus setuju dan percaya dengan saya.

Salam hormat saya

tags:

Related For Sabar Itu Tak Ada Batasnya (bukan sebaliknya)