Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Sangkan paraning dumadi

13 Oktober 2012 | Culture

Sangkan paraning dumadi. Dalam pandangan Jawa, semua yang ada di alam raya ini adalah ciptaan Tuhan. Meskipun seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, akan tetapi yang pada dasarnya terbuka dan tidak dogmatis. Mengartikan penciptaan itu haruslah tidak bertentangan dengan hukum-hukum ilmu pengetahuan yang berlaku, terutama hukum sebab akibat. Ini adalah konsekwensi logis dari tantularisme yang meyakini bahwa kebenaran adalah tunggal. Tan hana dharma mangrwa.

Jadi pandangan ini memang meyakini bahwa seluruh alam raya ini adalah ciptaan Tuhan, tetapi penciptaan itu berlangsung menurut kaidah umum yang berlaku di alam semesta itu, yang berlangsung perlahan-lahan dalam kurun waktu yang amat panjang. Dengan kata lain, penciptaan itu berlangsung secara evolusioner. Berlangsung menurut proses evolusi. Dan ini berlangsung terus-menerus sampai sekarang dan sampai kapanpun juga.

Ungkapan “mulih mula mulanira” jelas menggambarkan keyakinan ini, yaitu bahwa semua yang ada di dunia ini mesti pulang ke asal mulanya, yaitu Tuhan Sang Maha Pencipta. Hidup di dunia ini, yang alam pemikiran Jawa disebut “alam madya” (alam tengah), yang diibaratkan sebagai “mampir ngombe”, singgah sebentar untuk minum. Pendirian semacam ini adalah konsekwensi logis dari keyakinan yang lebih mendasar, yaitu bahwa manusia dan semua makhluk ciptaan Tuhan itu terdiri dari dua dimensi utama. Yaitu dimensi jasmani dan dimensi rohani.

Jasmani atau raga adalah bersifat sementara. Ia bisa lahir, tumbuh, berkembang dan musnah. Roh adalah abadi. Ia selalu dan tetap ada dalam alam keabadian, yang dalam keyakinan terdiri dari alam purwa (sebelum lahir), alam madya atau madyapada, yaitu dunia kita sekarang ini dan alam wasana (setelah kematian raga).

Dibanding dengan alam keabadian yang tidak mengenal awal dan akhir, maka hidup di dunia ini memang amat singkat. Itulah sebabnya diibaratkannya hanya sebagai persinggahan sebentar untuk minum. Dalam ungkapan: “prasasat mung mampir ngombe”. Apa yang dilakukan manusia dalam persinggahan singkat di dunia yang fana ini menentukan nasib dan arah perjalanan selanjutnya. Hukum inilah yang dalam ungkapan Jawa disebut hukum “Ngundhuh wohing pakarti”. Secara populer sering pula disebut sebagai hukum “karma”. Setiap orang akan memetik buah sesuai dengan apa yang ditanamnya.

Moralitas Jawa menghendaki agar setiap orang senantiasa melaksanakan kewajiban yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta. Kewajiban itu adalah sederhana saja, yaitu hidup yang baik dan benar. Kewajiban itu dirumuskan dalam ungkapan “mamayu hayuning bawana”. Yang artinya memelihara kebaikan dunia. Kewajiban ini hanya akan terlaksana bila dilandasi rasa “asih ing sasami” (cinta kasih kepada sesama, serta dengan semangat “sepi ing pamrih rame ing gawe” (giat bekerja tanpa mementingkan diri-sendiri). Ini adalah batu ujian manusia dalam menentukan hari depannya.

Sejajar dengan keyakinan para pemikir besar dari segala bangsa dan agama, seprti Charles Darwin, Pierre Teillhard de Chardin, S.Radhakrishnan, Krishnamurti, Sayta Sai Baba, Madjid Ali Khan dan lain-lain, pemikiran Jawa pun pada dasarnya mengakui adanya proses evolusi semesta yang terus berlangsung dan melanda semua ciptaan Tuhan di dalamnya, termasuk pula manusia.

Jadi, manusia pun terus-menerus berevolusi. Dan mirip sekali dengan gambaran Teilhard de Chardin tentang akhir dan evolusi manusia yang disebutnya sebagai titik omega, yang diyakininya sebagai Kristus dalam manusia. Maka dalam pemikiran Jawa, puncak dari evolusi manusia itu berupa manusia sempurna, yang dikenal adanya beberapa istilah seperti: Manungsa Utama, Manungsa Binangun, Jalma Pinilih, Insan Kamil dan lain sebagainya.

Tataran puncak seperti itu akan tercapai oleh siapa saja yang dengan kesadaran penuh telah dapat menyatukan dirinya dengan Sang Maha Pencipta. Apabila ia berhasil menyatukan jagad cilik (mikrokosmos) dengan jagad gedhe (makro kosmos). Keadaan itulah yang disebut manunggaling kawula kalawan Gusti. Tingkatan seperti itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Setiap orang bisa mencapainya, asal ia percaya dan berusaha dengan sungguh-sungguh.

tags:

Related For Sangkan paraning dumadi