Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Sejarah karawitan dengan dua metode

13 Oktober 2012 | Culture

Sejarah karawitan dengan dua metode. Berbicara tentang sejarah karawitan Indonesia, sebenarnya masih seperti halnya membicarakan sejarah pedalangan. Namun demikian, kita harus berani mencoba, dengan begitu perbaikan akan dapat dilaksanakan sambil berjalan. Apabila kita tidak memberanikan diri membicarakan sejarah karawitan ini, maka selamanya tidak akan terwujud.

Pada jaman Prahistory bisa menggunakan dua metode, yaitu:

1. Metode Stratigrafi

Metode ini pada dunia karawitan belum dapat dilaksanakan, karena beaya yang besar, kemungkinan yang amat tipis. Sampai sekarang kita belum pernah mendengar di Indonesia bahwa ada gong yang tertanam di lapisan anu, atau lempeng tembaga yang berisi gending tertanam dilapisan tanah sejaman dengan anu dan sebagainya. Oleh karenanya, metode typologilah yang dapat kita pergunakan, meskipun tidak cocok benar, tetapi sudah mempunyai gambaran.

2. Metode Typologi

Dengan metode typologi kita dapat membandingkan dari yang sederhana dijajarkan urut sampai pada yang bertaraf sempurna. Meskipun sebenarnya perkembangan kebudayaan sering juga mengalami kemunduran, tidak selalu mengalami kemajuan yang terus-menerus.

Di sinilah kelemahan dari pada p-emakaian satu metode saja. Tetapi, karena kita dihadapkan pada hal yang serba terpaksa, maka kita tempuh dahulu perbaikan sambil berjalan.

Ketika kebudayaan manusia masih sangat sederhana, sehingga mereka belum dapat membuat alat bunyi-bunyian sebagai penyajian seni karawitan, tentunya untuk memenuhi kebutuhan mereka membuat alat-alat yang masih sangat sederhana. Bahkan ketika mereka belum mampu sama sekali membuat alat bunyi-bunyian, mereka cukup menikmati bunyi-bunyian yang disediakan oleh alam.

Manusia dalam kodratnya selalu dapat dan gemar menikmati keindahan-keindahan alam sekitarnya yang disediakan oleh Yang Maha Kuasa. Pada waktu kebudayaan manusia masih sangat sederhana apa yang disediakan alam ini telah dapat memuaskan kebutuhan mereka, sehingga kepadanya dijuluki manusia alamiah. Dalam hal keindahan bunyi-bunyian pertama-tama manusia alamiah ini dapat merasakan keindahan suara alam, antara lain:

• Desir angin sepoi-sepoi basah
• Suara gelombang laut yang mendebur pantai
• Gerit geser bambu dalam rumput
• Bunyi kicau bermacam-macam burung
• Bunyi gemerciknya air terjun
• Bunyi kodok ngorek atau kungkang bersautan

Semua bunyi-bunyian alam tersebut di atas masih dapat dibuktikan sampai sekarang. Bahkan di dalam kesusastraan masih hidup. Bagaimana asyiknya manusia menikmati suara gelombang, air terjun, desir angin, gerit geser rumpun bambu, masih dilukiskan dalam puisi.

Kicau burungpun menjadi hidangan seni bunyi-bunyian yang tidak kurang nikmatnya, seperti kita ketahui bagaimana nikmatnya pagi-pagi mendengarkan anggung perkutut, sehingga ada peristilahan perkututisme. Bagaimana penyair melukiskan menyengungongnya burung merak, dan keindahan pagi hari yang ramai dihiasi dengan kicau burung kucica dan sebagainya. Jadi apa yang kita kemukakan tadi semua masih dapat kita rasakan sendiri.

Setelah kebudayaan manusia maju selangkah dalam hal merasakan keindahan bunyi-bunyian, maka manusia kurang puas menikmati keindahan bunyi-bunyian apa yang disediakan alam saja, tetapi mereka berusaha menikmati keindahan bunyi-bunyian lain yang lebih bervariasi. Yaiut, mereka berusaha menirukan bunyi-bunyian alamiah atau membuat tiruan bunyi-bunyian alam yang tersendiri, mirip apa yang dihayati sesuai dengan kehidupan lahiriyah maupun sesuai dengan kehidupan batiniahnya.

Maka lalu manusia mencari sumber bunyi-bunyian yang masih tergantung pada benda-benda alam, tetapi sudah mampu mengusahakan bagaimana benda-benda itu dapat dibunyikan sehingga memenuhi selera mereka tentang seni bunyi-bunyian, misalnya:

1. Memukul benda-benda stalaktit dan stalakmit, hingga sampai sekarang tertinggal adanya gua Tabuhan yang terkenal dan terdapat di Pacitan, Jawa timur.

2. Memukul air di sungai atau membuat lagu-lagu yang dinamai “ciblon”, dengan lagu sebagai berikut: plung-plak-plung blem-plung-plung plak-plak plung-plung bem.

Selanjutnya setelah manusia meninggalkan kehidupannya sebagai manusia alam, maka mereka menginjak kehidupan yang berbudaya. Manusia yang telah berbudaya ini, meskipun masih sangat sederhana telah memikirkan membuat alat-alat sederhana yang dapat menimbulkan bunyi-bunyian, meskipun masih bernada satu, misalnya:
1. Membuat kentongan atau tong-tong.
2. Membuat peluit atau dremenan
3. Membuat gendang atau genderang

Alat-alat tersebut di atas masih jelas penggunaannya sampai sekarang, yaitu sebagai alat perhubungan, alat untuk tanda peperangan dan atau sebagai mainan belaka. Setelah pengertian manusia makin bertambah kebudayaanpun makin maju. Maka mereka membuat alat bunyi-bunyian yang bernada lebih dari satu, yaitu, dua, tiga, empat, dan akhirnya lengkap bernada lima atau panca nada (pentatonis). Alat bunyi-bunyian yang bernada lebih dari satu misalnya: Angklung, Seruling, gong tiup dan sebagainya

Lagu-lagu yang sederhana

Dalam hal lagu-lagu atau gending, apabila kita boleh menyebutnya pun secara typologis dapat diurutkan sebagaimana manusia menciptakan. Yaitu dari bentuk yang sederhana, seperti alat bunyi-bunyian yang dibuatnya, misalnya:
a. Ciblon di sungai.
b. Bunyi daripada tong-tong (kentongan), seperti:
1. 1 kali berturut-turut atau titir berarti adanya bahaya kematian atau raja pati.
2. 2 kali berturut-turut ada pencuri.
3. 3 kali berturut-turut ada kebakaran
4. 4 kali berturut-turut ada air bah atau banjir
5. 5 kali berturut-turut ada ternak hilang
6. 6 kali berturut-turut ada (?)
7. tong-tong rythme gendayakan berarti memanggil keluarga yang sedang bepergian.
8. tong-tong lagu uluk-uluk berarti keadaan aman atau tidak ada gangguan keamanan.
9. tong-tong lagu untuk perondan keliling kampung pun juga tersendiri
c. Lagu-lagu kotekan lesung, antara lain:
1. gending kotekan “kupu tarung”
2. gending kotekan “kembar mayang”
3. gending kotekan “irim-irim”
4. gending kotekan “temanten anyar”
5. gending kotekan sebagai iringan kethoprak pun ada. Contoh: otak-obrek-obrek. Kotekan ini mempergunakan satu atau dua lesung. Dipukul oleh wanita-wanita tani sebanyak 5 orang atau lebih dengan menggunakan alu alat penumbuk pada dan ganden atau gendong.

Adapun fungsinya:
– gendong sebagai gong atau pada (Jawa).
– gawe dengan alu sebagai pembuka.
– tetek dengan alu dipukulkan sesama alu sebagai pemangku irama.

Untuk soal lagu-lagu kotekan lesung ini sebagai ancer-ancer atau patokan masih diperlukan penyelidikan yang seksama, yang tiap daerah mempunyai variasinya masing-masing.
Timbulnya seruling di Eropa

Pada jaman Palaeolithicum muda, bertepatan dengan jaman Magdalenien, yang bersamaan dengan jaman Wurm, dijelaskan bahwa pada jaman tersebut pembuatan alat-alat dari batu terdapat lebih kasar, tetapi pembuatan alat-alat dari tulang dan atanduk nampak lebih halus dan macamnya lebih banyak, dan tidak jarang dihias dengan gambar-gambar binatang. Hasil dari jaman Magdalenien yang berupa tulang itu antara lain:
1. Harpin, adalah tombak yang bergerigi.
2. Sudip, pisau yang runcing
3. Jarum
4. Kalung dari gigi
5. Kalung dari tulang belakang
6. Kalung dari karang
7. Tulang yang diberi lubang satu atau lebih yang kiranya dipergunakan sebagai seruling atau peluit.

Apabila hal tersebut di atas kita buat analogi, maka alat bunyi-bunyian tiup yang lebih dahulu muncul. Di Indonesia kiranya seruling yang harus diletakkan di muka. Hal ini mengingatkan kita bahwa di Indonesia bambu mendapat tempat yang penting dalam kehidupan kita. Ingatlah akan teori Kern, tentang nama tumbuh-tumbuhan, penentuan kata selatan dan sebagainya.

Related For Sejarah karawitan dengan dua metode