Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Semangat Tantularisme Jawa

11 Oktober 2012 | Culture

Semangat Tantularisme Jawa. Seperti yang telah kita bahas pada artikel ciri karakteristik pandangan Jawa, tentang semangat tantularisme. Kartini pernah membangkitkan kekaguman Eleanor Roosevelt karena pada waktu masih gadis remaja, ia telah menulis dalam salah satu dari surat-suratnya yang kemudian menjadi amat terkenal: “bahwa inti dari semua agama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah.

Akan tetapi wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengan dia?” Pernyataan Kartini itu menggambarkan semangat universal yang dinamakan Ir. Sujamto sebagai tantularisme.

Juga Kahlil Gibran selalu menghembuskan nafas tantularisme lewat puisi-puisinya yang antara lain menyatakan: “Ku sayangi engkau, saudaraku, apakah engkau memuja di gereja, berlutut di kuil, atau berdoa di masjid”. Kata-kata Kahlil Gibran ini menunjuk dengan jelas inti semangat tantularisme, yaitu kecintaan yang mendalam terhadap sesama dan pemahaman yang mendalam pula terhadap kesamaan hakiki dari semua agama, yaitu sebagai wahana ke arah Tuhan dan kebenaran.

Dan sebenarnya hanya mempunyai satu embanan utama, yaitu membawa manusia ke arah hidup yang benar dan saling menyinta.

Empu Tantular sendiri bersikap amat jelas dalam menghadapi dua agama yang sama-sama hidup subur pada saat ia hidup di zaman Majapahit, yaitu Buddhisme (Budha) dan Civaisme (Hindu). Ia tidak memihak pada salah satu dari keduanya. Juga ia tidak berusaha untuk melebur atau menggabungkan kedua agama itu menjadi satu agama baru. Empu Tantular menghormati keduanya.

Ia menganjurkan kepada para pendeta Buddha untuk bukan saja menghormati tetapi juga berusaha memahami dan menghayati ajaran-ajaran Civaisme. Dan sebaliknya juga menganjurkan kepada para pendeta Civa untuk juga mendalami dan menghayati ajaran-ajaran Buddha.

Hanya dengan cara demikian mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pemimpin umat. Dan hanya dengan cara demikian pula mereka bisa mencegah kesesatan umat yang mengarah pada sikap saling merendahkan agama lain, menganggap agamanya sendiri paling diridhoi Tuhan, yang sadar atau tidak sadar akhirnya menjadikan agama sebagai alat pemecah belah umat manusia di bumi ini.

Tantularisme adalah semangat universal yang bersumber pada kesadaran yang paling dalam dari hati nurani manusia. Para pemikir dunia yang membangun pemikiran-pemikirannya di atas landasan kecintaan terhadap sesama, seperti Gandhi, Radhakrishnan, Alfred, North Whitehead, Anwar Sadat, Vivekananda dan lain-lain, mempunyai pandangan dan semangat yang pada dasarnya sama dengan Empu Tantular, Kartini, Eleanor Roosevelt dan Kahlil Gibran. Yaitu semangat yang dinamakan semangat tantularisme itu.

Memang Empu Tantular barangkali bukan orang pertama yang mencanangkan semangat ini. Tetapi ia orang yang amat berjasa dalam mengkristalisasikan semangat ini lewat kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

Bagi bangsa Indonesia kalimat Empu Tantular ini kemudian menjadi begitu sakral karena paroh pertama dari padanya yaitu Bhinneka Tunggal Ika diangkat menjadi sasanti resmi dan diabadikan dalam lambang negara yang terkenal sebagai Garuda Pancasila. Dan kemudian paroh kedua kalimat Tan Hana Dharma Mangrwa, diangkat menjadi sasanti resmi Lembaga pertahanan Nasional (LEMHAMNAS).

Semoga semangat tantularisme yang melekat dalam kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa tersebut dapat senantiasa mengilhami kita dalam membangun hari depan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Bukan hanya bagi bangsa Indonesia saja, semoga saja akan berkembang bagi seluruh umat manusia di dunia. Karena Tantularisme yang merupakan ciri karakteristik pandangan Jawa memang milik dunia.

Keprihatinan saya terhadap kerukunan umat beragama di seluruh negeri yang terjadi akhir-akhir inilah, yang mendorong saya untuk menuliskan ini dengan referensi beberapa buku. Semoga kerukunan, gotong royong dan saling menghormati antar umat manusia selalu lekat di negeri ini. Amin.

tags:

Related For Semangat Tantularisme Jawa