Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Sistem kemasyarakatan orang Jawa

18 November 2013 | Culture

Sistem kemasyarakatan orang Jawa. Masyarakat Jawa terutama yang tinggal di desa-desa termasuk tipe masyarakat yang Gemeinschaft (paguyuban) dengan jiwa gotong-royong yang kuat, rasa solidaritas dan unsur kebersamaan yang tinggi, serta rasa keterikatan yang erat terhadap tanah kelahirannya. Itulah sebabnya maka mereka kadang-kadang sangat berat meninggalkan kampung halamannya untuk merantau atau bertransmigrasi.

Dalam masyarakat orang Jawa masih dikenal golongan priyayi dan wong cilik.
1. Golongan priyayi terdiri dari para pegawai negeri, kaum cerdik pandai dan keturunan bangsawan yang menduduki kelas sosial lapisan atas.
2. Golongan wong cilik terdiri dari para petani, tukang-tukang, pedagang kecil dan buruh yang menduduki kelas sosial lapisan bawah.

Menurut kriteria pemeluk agama Islam, biasanya dibedakan kaum santri (putihan) dan kaum kejawen (abangan).
1. Kaum santri adalah kelompok orang Islam yang menjalankan ajaran-ajaran Islam secara khusuk.
2. Kaum Kejawen adalah kelompok orang Islam, namun tidak menjalankan ajaran agama Islam yang pokok-pokok, seperti : sholat, zakat, puasa atau ibadah haji. Tetapi jika menikah atau meninggal mereka tetap diperlakukan menurut tata cara Islam.

Berdasarkan pemilikan atas tanah, masyarakat orang Jawa dibedakan atas beberapa golongan, antara lain :
1. Wong Baku (cikal-bakal), yaitu sekelompok orang yang merupakan keturunan dari orang-orang yang dahulu mendirikan desa itu. Mereka mendapat hak pakai atas tanah pertanian desa dan berkewajiban memikul segala beban anak keturunan para cikal tersebut. Kewajiban seperti itu disebut gogol atau sikep.

2. Kuli gandok (Lindung), yaitu golongan orang-orang yang memiliki tanah pekarangan dan rumah sendiri, tetapi tidak punya hak pakai atas tanah desa.

3. Mondok emplok (magersari), yaitu golongan orang-orang yang punya rumah sendiri di tanah pekarangan orang lain. Tetapi mereka tidak kuasa menjual tanah tersebut.

4. Rangkepan, yaitu golongan orang-orang yang sudah berumah tangga tetapi belum punyai rumah dan pekarangan sendiri. Mereka masih menempati rumah-rumah orang lain.

5. Sinoman, yaitu golongan orang-orang muda yang belum menikah dan masih tinggal bersama-sama dengan orang tuanya.

Sistem penggolongan tersebut di atas menimbulkan adanya perbedaan hak dan kewajiban terhadap desanya, seperti : kerja bakti, gugur gunung (kerik desa), tugas siskamling dan sebagainya.

tags:

Related For Sistem kemasyarakatan orang Jawa