Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Teknik dasar menabuh saron/demung

13 Oktober 2012 | Culture

Teknik dasar menabuh saron/demung. Menabuh gamelan Jawa khususnya saron atau demung merupakan keasyikan sendiri bagi saya. Walaupun nadanya hanya terdiri dari 7 nada, namun tantangannya tak kalah dengan memainkan keyboard atau gitar yang terdiri dari beroktaf-oktaf nada.

Saron/demung hanya terdiri dari 7 wilah (batang) nada saja, yaitu: nada 6,1,2,3,5,6,1 pada laras slendro dan 1,2,3,4,5,6,7 pada laras pelog. Namun pada perkembangannya campursari sendiri membuat saron/demung hingga 11 nada, bahkan ada yang 12 nada. Penambahan wilah atau nada ini bukan berarti menambahkan nada baru, tetapi hanya menambahkah nada yang lebih tinggi atau lebih rendah saja. Misal, nada 1 tinggi, 6 tinggi, 3 tinggi dan sebagainya.

Saron/demung bisa terbuat dari besi, kuningan dan perunggu. Tetapi pada umumnya terbuat dari perunggu, karena kualitas suaranya yang paling enak didengar. Namun karena semakin mahalnya harga bahan baku gamelan perunggu, maka tak sedikit yang menggunakan besi atau kuningan.

Bahkan musik-musik dakwah seperti kyai Kanjeng milik Caknun sendiri justru menggunakan besi untuk demung maupun saronnya. Bukan karena tak mampu membeli perunggu lho he hee… Mengapa demikian?

Mungkin karena kualitas bunyi gamelan besi lebih mirip dengan bunyi alat musik diatonis, karena dengungnya hanya sebentar saja. seperti keyboard yang sekali sentuh begitu dilepas dengungnya hilang. Berbeda dengan gamelan perunggu yang jika dipukul tanpa dipithet (istilah karawitan Jawa) maka dengungnya akan terus menggema hingga beberapa saat.

Bahkan gamelan perunggu yang kualitasnya bagus, sekali pukul mungkin akan terus berbunyi hingga hampir 1 menit. Padahal, ketukan irama tidak mesti lambat, terkadang si penabuh harus mampu menabuh dengan sigap dan cepat tanpa harus menunggu dengung gamelan hilang.

Itulah salah satu tantangan menabuh saron/demung. Lalu bagaimana teknik menabuh saron/demung yang benar? Saya bukan anak lulusan SMKI/ISI yang mungkin diberi pelajaran khusus untuk ini, saya hanya bertanya kepada para sesepuh seni karawitan di sekitar dan saya mencoba melihat para pengrawit yang sudah mahir menguasai menabuh gamelan saja. Dengan modal petunjuk dan sering mendengarkan tabuhan saron/demung saya mencoba belajar sedikit demi sedikit.

Bagi anda yang tertarikdan ingin berlatih sendiri memainkan saron dan demung, berikut saya berikan tekniknya melalui gambar dan saya sertakan penjelasannya. Jika ada yang kurang mengerti anda bisa tanyakan lewat kotak komentar blogger maupun facebook yang tersedia.

Berikut teknik menabuh saron/demung dengan laras gamelan Slendro, yang notasinya terdiri dari 6,1,2,3,5,6,1, tentunya pada gamelan yang terbuat dari perunggu.
1. Duduklah bersila menghadap saron/demung yang akan ana mainkan.
2. Pegang tabuh anda yang terbuat dari kayu, dan mulailah menabuh wilah/nada 6 paling kiri dengan tangan kanan. Siapkan tangan kiri anda untuk mithet.

Teknik dasar menabuh saron/demung

3. Sekarang anda berpindah menabuh wilah/notasi 1. Saat tabuh anda jatuh dan membunyikan wilah 1, maka secara bersamaan anda pithet (pegang) wilah 6 yang sebelumnya anda tabuh dengan rapat agar berhenti dengungnya.

Lebih jelasnya, ketika nada 1 berbunyi, maka dengungan pada wilah 6 harus berhenti.
CATATAN: “Pithet” atau “Pithetan” adalah memegang wilah dengan 4 jari dan 1 ibu jari dengan rapat. Lihat gambar.

Teknik dasar menabuh saron/demung
He heee… susah juga menjelaskannya dengan tulisan, lebih mudah jika langsung praktek tentunya.
4. Tabuh/pukul nada berikutnya (2 hingga 1 nada tinggi) secara berurutan dengan teknik yang sama.

Teknik dasar menabuh saron/demung

5. Coba berulang-ulang hingga anda mampu menggunakan teknik pithetan (memegang rapat) dengan cepat dan tepat hingga mahir. Ingat!! Pithetan adalah hal dasar yang harus anda kuasai dengan sempurna untuk bisa memainkan gamelan khususnya saron/demung dengan sempurna.

6. Jika anda sudah mahir menabuh dari nada/wilah bawah ke nada paling atas, sekarang anda coba menabuh terbalik, dari atas ke bawah (nada 1 paling tinggi ke nada 6 paling bawah).

7. Lakukan berulang-ulang. Tetapi jika menemui kesulitan jangan stres lho ya. Menabuh/memainkan semua alat musik atau gamelan itu berhubungan dengan rasa yang mendalam. Jika anda mampu mentransfer rasa dari pikiran kepada kedua tangan pasti anda akan segera bisa. Latihan yang continue adalah wajib jika anda ingin segera trampil memainkannya.

8. Setelah anda berulang kali mencoba dan terus mencoba, selanjutnya anda harus mencoba bagaimana jika menabuh tak berurutan. Misalkan suatu lagu pastilah nadanya tidak mesti berurutan kan? Saya coba memberikan latihan yang sederhana menabuh dengan notasi 2123.

Kelihatanya memang sepele, tapi coba dulu deh he hee… Ikuti ilustrasi berikut:
a. Karena notasinya 2123, maka pertama kali anda menabuh wilah atau notasi 2. perhatikan gambar telapak tangan.

Teknik dasar menabuh saron/demung
b. Notasi berikutnya 1, tabuh wilah/notasi 1. Gunakan teknik dasarnya, yaitu ketika notasi 1 berbunyi maka anda harus mithet (memegang rapat) notasi 2 tanpa sedikitpun terdengar dengungannya.
Teknik dasar menabuh saron/demung

c. Dengan teknik yang sama tabuh wilah/notasi 2.

Teknik dasar menabuh saron/demung

d. Dengan teknik yang sama tabuh wilah/notasi 3.

Teknik dasar menabuh saron/demung

Anda telah berhasil menabuh/memainkan saron/demung dengan notasi 2123.

Mainkan berulang-ulang hingga anda mahir. Selalu perhatikan pethetan anda, pithetan yang sempurna akan membuat tabuhan anda bersih. Sekali lagi INGAT! tentang PITHETAN. Jika teknik pithetan anda sudah benar, anda takkan kesulitan ketika permainan tempo/irama gamelan semakin cepat.

tags:

Related For Teknik dasar menabuh saron/demung