Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Tentang Sutan Takdir Alisjahbana

12 Juli 2014 | Sastra

Sutan Takdir Alisjahbana (STA) adalah seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Indonesia yang menjadi pelopor angkatan Pujangga Baru. Beliau lahir di Natal, Sumatera Utara tanggal 11 Pebruari 1908 dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1994 di usia 86 tahun.

STA merupakan keturunan raja Kesultanan Indrapura yang mendirikan Kerajaan Lingga Pura di Natal. Keturunan ini beliau peroleh dari garis ibunya. Ibunya Puti Samiah adalah Seorang Minangkabau yang telah turun-temurun menetap di Natal.

Puti Samiah merupakan keturunan Rajo Putih, salah seorang raja di kesultanan Indrapura. Dari ibunya pula STA berkerabat dengan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia.

Sedangkan ayah STA, Raden Alisjahbana dengan gelar Sutan arbi, adalah seorang guru. Kakek STA dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas.

Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika masih kecil. Kabarnya ketika STA masih kecil bukanlah seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus sekolah dasar ia pergi ke Bandung dan menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali mendapat liburan.

Pengalaman ini bisa terlihat dariu caranya menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal, yaitu Layar Terkembang.

Sutan Takdir Alisjahbana menikah dengan tiga orang istri serta dikaruniai sembilan orang putra dan putri. Istri pertamanya bernama Raden Ajeng Rohani Daha, menikah tahun 1929 dan wafat pada tahun 1935 yang masih berkerabat dengan STA.

Dari R.A. Rohani Daha STA sikaruniai tiga orang anak, yaitu : Samiati Alisjahbana, Iskandar Alisjahbana, dan Sofyan Alisjahbana. Tahun 1941, STA menikah dengan Raden Roro Sugiarti (wafat tahun 1952) dan dikaruniai dua orang anak, yaitu : Mirta Alisjahbana dan Sri Artaria Alisjahbana.

Dengan istri terakhirnya Dr. Margareth Axer (menikah tahun 1953 dan wafat tahun 1994), Sutan Takdir Alisjahbana dikarunia 4 orang anak, yaitu : Tamalia Alisjahbana, Marita Alisjahbana, Marga Alisjahbana, dan Mario Alisjahbana.

Putra sulung STA Iskandar Alisjahbana pernah menjabat sebagai rektor ITB serta menjadi mertua dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada Kabinet Indonesia Bersatu II, Armida Alisjahbana. Iskandar juga dikenal sebagai Bapak Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa. Sofyan dan Mirta Alisjahbana merupakan pendiri majalah Femina Group.

Adapaun mengenai kehidupan STA dijelaskan bahwa setelah menamatkan sekolah HIS di Bengkulu tahun 1921, STA melanjutkan pendidikan di Kweekschool, Bukittinggi. Kemudian beliau meneruskan HKS di Bandung tahun 1928, meraih gelar master dari sekolah tinggi di Jakarta tahun 1942, dan menerima Dr. Honoris Causa dari Universitas Indonesia tahun 1979 dan Universitas Sains Malaysia, Penang, Malaysia tahun 1987.

Karir STA beraneka ragam, dari bidang sastra, bahasa, dan kesenian. STA pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka pada tahun 1930-1933. Kemudian ia mendirikan dan memimpin majalah Poedjangga Baroe pada tahun 1933-1942 dan 1948-1953, Pembinda Bahasa Indonesia tahun 1947-1952, dan Konfrontasi tahun 1954-1962.

Ia juga pernah menjadi guru HKS di Palembang tahun 1928-1929, dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan kebudayaan di Universitas Indonesia pada tahun 1946-1948, guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusasteraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta pada tahun 1950-1958, guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang tahun 1956-1958, guru besar dan Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur pada tahun 1963-1968.

Sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia, STA pernah menjadi anggota parlemen tahun 1945-1949, anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante tahun 1950-1960. Selain itu, ia menjadi anggota Committee of Directors of the International Federation of Philosophical Societies (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS sejak tahun 1968, anggota World futures Studies Federation, Roma sejak tahun 1974, dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda sejak tahun 1976.

Dia juga pernah menjadi rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Kademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (1994).

Sutan Takdir Alisjahbana merupakan salah satu tokoh pembaharuan Indonesia yang berpandangan liberal. Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, STA sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya.

STA sangat gelisah dengan pemikiran cendekiawan Indonesia yang antimateralisme, antimodernisasi, dan anti Barat. Menurutnya, bangsa Indonesia haruslah mengejar ketertinggalan dengan mencari materi, memodernisasi pemikiran, dan belajar ilmu-ilmu Barat.

Sampai akhir hayatnya STA belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, yakni menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di kawasan Asia Tenggara. Ia kecewa bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di nusantara.

Ia kecewa, bangsa Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Filipina dan Indonesia yang menjadi penutur bahasa Melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantar kawasan.

Sebagai salah satu tokoh sentral di zaman Kalajangga (zaman pujangga), STA memiliki karakteristik yang khas pada setiap karangannya, yakni mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat. Adapun karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana pada zaman Kalajangga sebagai berikut :

  1. Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
  2. Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
  3. Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
  4. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
  5. Layar Terkembang (novel, 1936)
  6. Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
  7. Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
  8. Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
  9. Pelangi (bunga rampai, 1946)
  10. Pembimbing ke Filsafat (1946)
  11. Melawar ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
Itulah tentang segala hal mengenai Sutan Takdir Alisjahbana yang begitu multitalenta, panjang dan mengesankan.

Related For Tentang Sutan Takdir Alisjahbana

Recent Post

Pada hari Selasa tanggal 8…
Benign chronic bullous disease of…
Herpes gestationis is a rankling…
Dermatitis herpetiformis is an endless…

Kategori