Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Ujian Hidup

3 Maret 2011 | Intelegensi

Ujian Hidup. Socrates pernah berkata, bahwa hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi (unexamined life is not worth living). Hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan.

Berarti, tanda bahwa manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal daripada tidak tahu mengapa kita berhasil.

Konon kabarnya, menurut para ahli, mutiara yang mahal itu berasal dari masuknya sebutir pasir ke dalam tiram yang terbuka. Pasir yang masuk ini ternyata menimbulkan sakit yang luar biasa sehingga untuk menahan rasa sakit tersebut sang tiram membungkus pasir itu dengan “air liurnya” terus-menerus selama bertahun-tahun. Sebutir pasir yang terus-menerus dibungkus dengan “air liurnya” tiram tersebut secara tidak sadar telah menghadirkan mutiara yang indah dan mahal harganya.

Terkadang hidup ini perlu merasakan sakit dan ujian bahkan jatuh hingga titik nol untuk menemukan esensi nilai hidup itu sendiri. Billi P.S Lim dalam bukunya Dare to Fail mengatakan bahwa banyak orang menerjemahkan ujian hidup dan penderitaan sebagi suatu bagian dari kegagalan hidup. Itulah sebabnya ia mengatakan “No failure, only succes delayed.” (Tidak ada kegagalan, melainkan hanya sukses yang tertunda).

Seorang profesor pernah menerangkan bagaimana perak harus dimurnikan sebanyak tujuh kali. Perak yang masih kotor harus dipanaskan dan dilelehkan, karena perak berberat jenis cukup besar, maka ketika dipanaskan dia akan turun dan kotorannya akan naik.

Saat itulah kotoran-kotoran disaring dan dibersihkan . Setelah mengalami pembersihan tahap pertama, maka kembali perak itu dicairkan untuk kedua kalinya lalu disaring kembali. Hal ini harus dilakukan berulang kali untuk mencapai tingkat kemurnian yang diharapkan. Setelah tujuh kali barulah perak murni, tinggal menyisihkan kotoran-kotoran yang halusnya saja.

Alhasil, setelah melalui berkali-kali proses pembersihan, perak ini bisa begitu cemerlang bagaikan cermin. Padahal, ketika masih kotor betapa sulitnya  untuk bercermin pada perak tersebut. Namun, setelah tujuh kali dipanaskan, orang baru dapat melihat wajahnya sendiri pada perak tersebut.

Dari sana dapat kita ambil hikmah bahwa ketika “kotoran hidup” (karakter, watak, dan kebiasaan negatif sulit lekang sekalipun sudah berkali-kali berusaha untuk meninggalkanya), maka kita tampaknya perlu masuk dapur api pengujian hidup agar dapat menemukan kembali makna hidup itu sendiri.

Bagaimana memaknai setiap ujian hidup, menjadi sangat berarti bagi kita untuk meraih dan menikmati hikmahnya. Seorang rekan sesama trainer (instruktur) yang selalu aktif dengan omset besar pada akhir tahun lalu harus opname di rumah sakit selama beberapa minggu karena serangan stroke ringan, selain itu beliaupun harus menjalani fisioterapi pasca opname. Rekan ini sangat bersyukur dengan kondisi sakitnya itu, karena menginap dirumah sakit rupanya menjadi waktu yang indah untuk menikmati arti hidup dan tujuan hidup.

“Ternyata, harta dan omset bukan segala-galanya. Bukiankah ketika mati lampu adalah kesempatan bagi kita untuk menikmati indahnya terang?” demikian tuturnya.

Apa masalah kita saat ini? Keluarga yang tidak harmonis? Anak yang susah diatur? Uang yang selalu tidak cukup ditengah-tengah kenaikan biaya hidup yang semakin tinggi? Atau karier yang berjalan mulus?

Tampaknya kita perlu merenungkan kembali bahwa matahari akan selalu tetap bersinar. Seandainya saat ini mendung, bukan berarti matahari berhenti bersinar. Mungkin ini kesempatan untuk menikmati keteduhan ,barang sejenak melakukan refleksi hidup, atau Sang Pencipta hendak “berbicara” banya kepada kita. Karena ketika kita sibuk ada kalanya suara-Nya nyaris tak terdengar. Cepat atau lambat mendung akan berlalu dan matahari akan menunjukkan wajahnya kembali. Kalaupun mendung menjadi hujan, habis hujan pasti tampak pelangi indah.

Dalam The Bamboo Oracle, dikisahkan bagaimana pohon bambu (bamboo)  yang hidup enak dalam rumpunnya terpaksa harus ditebang dan menderita rasa sakit yang amat sangat ketika dipotong-potong. Namun, sang bambu akhirnya mengerti setelah dia tahu bahwa dirinya dipergunakan untuk saluran air bagi masyarakat, obor, kentongan, dan lemang. Rasa sakitnya ternyata bermakna untuk kebahagiaan makhluk lain.

Itulah sebabnya seorang sufi pernah mengajarkan bahwa ketika ujian hidup, jangan berdoa kepada Sang Pencipta supaya ujian itu berlalu, melainkan berdo’alah , “Wahai, Yang Maha Pencipta, berilah kekuatan kepadaku untuk melalui dan menghadapi ujian hidup ini”. “Selamat merenungkan dan meraih makna hidup melalui ujian hidup”. Semoga berguna

Tak ada maksud negatif, Postingan ini semata-mata bertujuan untuk menyebarluaskan motivasi hidup. Terimakasih.

Disadur dari buku Setengah Isi Setengah Kosong ( Half Full – Half Empty ), Karangan : Parlindungan Marpaung.

tags:

Related For Ujian Hidup