Enjang.com

Situs Informasi dan Teknologi

Menu

Unsur sosiologi sastra novel Angkatan 45

4 Maret 2014 | Sastra

Unsur sosiologi sastra novel Angkatan 45. Kondisi masyarakat suatu tempat pada suatu waktu sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap karya sastra. Ini tentu saja tidak aneh, bukankah sastra selalu memancarkan kondisi masyarakat pada zamannya?

Kondisi masyarakat juga besar pengaruhnya terhadap proses penciptaan. Periode 1940-1950 diliputi situasi tidak menentu : perang melawan Jepang, sekutu, dan tentara Belanda, menyita seluruh daya dan perhatian bangsa Indonesia.

Karena itu tidak mengherankan bahwa periode ini tidak banyak menghasilkan banyak novel. Dan tanpa mengurangi nilai karya dalam bentuk puisi, maka kita katakan bahwa periode 1940-1950 periode miskin novel, tetapi kaya dengan puisi. Bagaimana orang bisa menerbitkan novel yang panjang-panjang, bukankah kertas serba terbatas. Bukankah kita diburu-buru peluru?

Periode 1945-an adalah periode sejarah perjuangan heroik bangsa Indonesia dalam mencapai, mempertahankan dan merebut kemerdekaan. Peristiwa besar ini diwarnai dengan banyaknya putra bangsa yang berguguran. Tetapi di balik peristiwa-peristiwa yang heroik itu tidak tertutup kemungkinan lahirnya intrik-intrik, pengkhianatan, penggarongan dan sebagainya.

Ini semua tercermin dalam karya sastra, baik yang berupa puisi maupun dalam cerita pendek dan novel. Karya Idrus yang berjudul “Surabaya” dengan jelas memperlihatkan hal ini. Keadaan masyarakat dengan semangatnya yang meluap dan menggelora melawan penjajah. Keberanian dan semangat baja para pemuda semuanya tergambar dalam karya ini.

Keberanian pemuda yang hanya bersenjatakan bambu runcing, sepotong kayu dan sebilah parang, berani menghadapi musuh yang persenjataannya serba lengkap dan modern.

Related For Unsur sosiologi sastra novel Angkatan 45